Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2011

Tahun Baru 2012

Menjelang datangnya tahun baru masehi 2012, apa saja yang perlu kita lakukan? salah satunya adalah refleksi tentang perjalanan hidup kita selama tahun 2011. Mari kita introspeksi diri, di semua sisi kehidupan kita, apakah sudah berjalan dengan semestinya (sesuai ajaran agama) atau kah justru makin menyimpang dari jalan agama? Karena agama tak hanya mengatur kehidupan keagamaan manusia saja, melainkan berbagai bidang dalam kehidupan kita, baik dalam hubungannya dengan Allah, maupun dengan sesama manusia. Baik dalam hal ekonomi, politik, seni, budaya maupun dalam usaha-usaha kehidupan yang lain.

Hablun Mina al-Allah
Sudahkah kita menjadi hamba yang patut dicintai oleh Allah. Dimana kita melaksanakan perintahnya dengan sepenuh hati, dan meninggalkan larangannya dengan senang hati, ataukah kita selama ini beribadah hanya untuk menggugurkan kewajiban, agar tidak dikenai dosa. Atau bahkan kita sekarang justeru malah berani meninggalkan perintah-Nya dan berani melakukan perbuatan-perbuatan yang Dia larang.


Hablun Mina an-Nas
Kepada sesama manusia, sudahkah kita bergaul satu dengan yang lain sesuai dengan tuntunan agama? ataukah justeru kita menafikan segala sesuatu yang menyangkut kehidupan antar sesama manusia? Padahal jelas-jelas agama juga memberi perhatian lebih pada hubungan antar sesama. Pembaca pasti sudah banyak tahu tentang hadits-hadits yang menerangkan tentang hal tersebut.
Karena seperti yang kita tahu, banyak orang yang memilih melaksanakan ibadah haji berkali-kali dari pada dengan menyantuni anak yatim, atau membantu fakir miskin yang ada disekitarnya.
Sudahkah kita dengan mudahnya memaafkan kesalahan orang lain, dan sudahkah kita dengan besar hati meminta maaf apabila kita telah melakukan kesalahan pada orang lain.

Hablun Min al-Alam
Kepada alam sekitar, adakah upaya yang kita lakukan untuk melestarikan alam ini? atau kita justeru menghabiskan alam ini demi memenuhi nafsu keserakahan kita? Hendaknya kita tidak hanya sekedar mendengang-dengungkan slogan-slogan pelestarian alam, tanpa kita ikuti dengan tindakan nyata. Talk Only, No Action.

Ekonomi
Dalam hal ekonomi, mencari nafkah, masihkah kita memperhatikan rambu-rambu agama, atau kita malah terbiasa menerabas haluan itu. Masihkah kita peduli dengan halal dan haram, ataukah nafsu untuk mengungmpulkan harta kian membutakan nilai-nilai agama?
Yakinlah, rizki yang sedikit, tapi halal, akan lebih terasa dan membawa nikmat dari pada rizki yang banyak tapi haram. Tentunya kita semua tidak mau, menyusun tulang dan daging anak-anak kita dengan makanan haram bukan?

Dan masih banyak renungan lain yang perlu kita renungkan di ahir tahun ini, menjelang datangnya tahun baru nanti. Meski sebenarnya kita tidak perlu merayakannya, apalagi dengan berlebihan.

Selasa, 28 Juni 2011

Jangan Menyesali dan Meratapi Kekurangan Hidup Kita


Judul awal tulisan ini sebenarnya "Jangan Pasrah pada Kekurangan Hidup" namun pada saat hendak posting saya mengubahnya menjadi kalimat yang lebih tegas dan lebih eye catching ;-)

Kekurangan hidup itu banyak macamnya. Bisa lahiriah bisa batiniah. Bisa sejak lahir bisa juga karena keadaan. Apapun sebabnya, tak pantas dan tak guna kita meratapinya.

Jika anda lahir dalam kondisi difabel (ada fungsi tubuh yang tidak dapat digunakan seperti umumnya orang lain), tak usah menyesali kondisi tersebut. Jangan juga menjadi rendah diri karena diperolok sebagai orang cacat.

Martabat manusia bukan pada sikap lahiriah semata. Orang yang memperolok kondisi difabel anda semestinya dikasihani karena dia hanya bisa menang dengan cara memperolok sesuatu diluar kuasa kita. Dia tak punya power dan alasan yang lebih real untuk bisa mengalahkan kita.

Tak usah menunggu uluran tangan dan rasa kasihan orang lain. Buktikan bahwa kita mampu hidup dan menghidupi orang lain. Menyesali kondisi yang sudah ada hanya akan meruntuhkan semangat dan membuat hidup kita lebih sulit untuk dijalani.

Apakah kekurangan hidup hanya dalam soal difabel ? Tidak juga. Setiap manusia pasti punya kekurangan namun orang kadang lupa pada kenyataan ini. Ada yang tidak bisa menyanyi dan merasa dunia runtuh karenanya. Ada yang tidak bisa main gitar dan merasa wanita tak akan ada yang mau menjadi pacar atau isterinya karena ketidak mampuannya itu.

Kalau dibilang setiap orang punya kekurangan, mungkin jawabannya, "ah klise..." padahal itu adalah kenyataan. Kalau menganggapnya klise, buatkan saja antitesa pernyataan tersebut, misalnya dalam bentuk kondisi yang sinonim, "Tak ada orang yang sempurna".

Saya menekankan 2 hal ini karena rasa kurang itu timbul dari dalam diri kita. Kalau kita mengganggapnya sebagai sesuatu yang besar, kelebihan yang dimiliki akan terhimpit oleh rasa kurang.

Kondisi tubuh difabel, lahir dari keluarga miskin, tak bisa kuliah, terpaksa bekerja sebagai buruh, tidak bisa suatu kepandaian bukanlah alasan untuk merasa rendah diri. Percayalah, orang akan menghargai anda jika anda tetap bisa berdiri tegak, berkarya dan berprestasi ditengah kekurangan yang mendera. Memangnya ada masalah apa kalau kita tidak bisa menyanyi ? Memangnya dunia akan kiamat jika kita lahir dari keluarga yang penghidupannya pas-pasan ? Memangnya kita tak akan pernah sukses kalau tidak sekolah, tidak kuliah atau belum bekerja ditempat yang kelihatannya bonafid ?

Jangan menunggu nasib berubah. Ubahlah keadaan yang sulit dan mulailah dari pikiran anda bahwa anda akan sukses ditengah kekurangan yang ada. Jangan pernah patah oleh keadaan. Santai saja. Lihatlah kekurangan itu sebagai jalan lapang untuk meraih kesuksesan.



Sebagai contoh, jika sekarang ini anda serba kekurangan, lebaran tanpa ada uang, habis diputus cinta, bertengkar dengan orang tua, dikejar debt collector, terhimpit utang dan sekian banyak kesulitan hidup lainnya, mulailah berpikir untuk recovery dengan cara :
  1. Bertobat. Jangan tertawa atau garuk-garuk kepala. Maksud saya bertobat antara lain agar kita introspeksi, apakah ada kesalahan dari diri kita pribadi. Kalau masalah timbul karena bawaan sejak lahir, tak usah disesali. Kalau masalah timbul karena kita boros, ceroboh, abai dan lalai, itu artinya kita harus taubatan nasuha, introspeksi dan bertobat untuk tidak mengulanginya lagi. Tak usah merasa kalah, lemah atau terhina untuk mengakui kalau memang kita yang bersalah
  2. Berdoa untuk diberi jalan keluar. Awali sesuatu dengan niat yang baik dan berdoa untuk diberi pilihan yang baik meski kita tidak bisa membayangkan solusi baik apa yang akan terjadi. Jangan menjadi tuhan dengan memfait accompli kehidupan kita dimasa depan
  3. Jangan meratapi apa yang sudah terjadi. Introspeksi sudah cukup, tak usah ditambah dengan ratapan pada masa yang sudah lewat dan tidak bisa kembali. Percuma, hanya akan membuat akal kita buntu dan otak kita macet. Tataplah masa depan dan biarkan otak anda berpikir tentang berbagai ide untuk menyelesaikan masalah
  4. Jangan takut melakukan perubahan. Jika kita sudah ada didasar kemalangan hidup, pilihan yang ada adalah perbaikan dan peningkatan taraf kehidupan. Tak mungkin kita turun lagi ke posisi bawah karena kita sudah sampai didasar kesulitan :-)
Jangan merasa rendah diri pada apa yang kita miliki sekarang. Sedikit apapun itu, itu adalah bagian dari kekayaan kita. Kirimi saya berita baik tentang anda, sedikit apapun peningkatan dan perbaikan kehidupan anda. Sedikit bagi anda mungkin bisa mengubah banyak hal bagi orang lain.

Jangan Menyesali dan Meratapi Kekurangan Hidup Kita


Judul awal tulisan ini sebenarnya "Jangan Pasrah pada Kekurangan Hidup" namun pada saat hendak posting saya mengubahnya menjadi kalimat yang lebih tegas dan lebih eye catching ;-)

Kekurangan hidup itu banyak macamnya. Bisa lahiriah bisa batiniah. Bisa sejak lahir bisa juga karena keadaan. Apapun sebabnya, tak pantas dan tak guna kita meratapinya.

Jika anda lahir dalam kondisi difabel (ada fungsi tubuh yang tidak dapat digunakan seperti umumnya orang lain), tak usah menyesali kondisi tersebut. Jangan juga menjadi rendah diri karena diperolok sebagai orang cacat.

Martabat manusia bukan pada sikap lahiriah semata. Orang yang memperolok kondisi difabel anda semestinya dikasihani karena dia hanya bisa menang dengan cara memperolok sesuatu diluar kuasa kita. Dia tak punya power dan alasan yang lebih real untuk bisa mengalahkan kita.

Tak usah menunggu uluran tangan dan rasa kasihan orang lain. Buktikan bahwa kita mampu hidup dan menghidupi orang lain. Menyesali kondisi yang sudah ada hanya akan meruntuhkan semangat dan membuat hidup kita lebih sulit untuk dijalani.

Apakah kekurangan hidup hanya dalam soal difabel ? Tidak juga. Setiap manusia pasti punya kekurangan namun orang kadang lupa pada kenyataan ini. Ada yang tidak bisa menyanyi dan merasa dunia runtuh karenanya. Ada yang tidak bisa main gitar dan merasa wanita tak akan ada yang mau menjadi pacar atau isterinya karena ketidak mampuannya itu.

Kalau dibilang setiap orang punya kekurangan, mungkin jawabannya, "ah klise..." padahal itu adalah kenyataan. Kalau menganggapnya klise, buatkan saja antitesa pernyataan tersebut, misalnya dalam bentuk kondisi yang sinonim, "Tak ada orang yang sempurna".

Saya menekankan 2 hal ini karena rasa kurang itu timbul dari dalam diri kita. Kalau kita mengganggapnya sebagai sesuatu yang besar, kelebihan yang dimiliki akan terhimpit oleh rasa kurang.

Kondisi tubuh difabel, lahir dari keluarga miskin, tak bisa kuliah, terpaksa bekerja sebagai buruh, tidak bisa suatu kepandaian bukanlah alasan untuk merasa rendah diri. Percayalah, orang akan menghargai anda jika anda tetap bisa berdiri tegak, berkarya dan berprestasi ditengah kekurangan yang mendera. Memangnya ada masalah apa kalau kita tidak bisa menyanyi ? Memangnya dunia akan kiamat jika kita lahir dari keluarga yang penghidupannya pas-pasan ? Memangnya kita tak akan pernah sukses kalau tidak sekolah, tidak kuliah atau belum bekerja ditempat yang kelihatannya bonafid ?

Jangan menunggu nasib berubah. Ubahlah keadaan yang sulit dan mulailah dari pikiran anda bahwa anda akan sukses ditengah kekurangan yang ada. Jangan pernah patah oleh keadaan. Santai saja. Lihatlah kekurangan itu sebagai jalan lapang untuk meraih kesuksesan.



Sebagai contoh, jika sekarang ini anda serba kekurangan, lebaran tanpa ada uang, habis diputus cinta, bertengkar dengan orang tua, dikejar debt collector, terhimpit utang dan sekian banyak kesulitan hidup lainnya, mulailah berpikir untuk recovery dengan cara :
  1. Bertobat. Jangan tertawa atau garuk-garuk kepala. Maksud saya bertobat antara lain agar kita introspeksi, apakah ada kesalahan dari diri kita pribadi. Kalau masalah timbul karena bawaan sejak lahir, tak usah disesali. Kalau masalah timbul karena kita boros, ceroboh, abai dan lalai, itu artinya kita harus taubatan nasuha, introspeksi dan bertobat untuk tidak mengulanginya lagi. Tak usah merasa kalah, lemah atau terhina untuk mengakui kalau memang kita yang bersalah
  2. Berdoa untuk diberi jalan keluar. Awali sesuatu dengan niat yang baik dan berdoa untuk diberi pilihan yang baik meski kita tidak bisa membayangkan solusi baik apa yang akan terjadi. Jangan menjadi tuhan dengan memfait accompli kehidupan kita dimasa depan
  3. Jangan meratapi apa yang sudah terjadi. Introspeksi sudah cukup, tak usah ditambah dengan ratapan pada masa yang sudah lewat dan tidak bisa kembali. Percuma, hanya akan membuat akal kita buntu dan otak kita macet. Tataplah masa depan dan biarkan otak anda berpikir tentang berbagai ide untuk menyelesaikan masalah
  4. Jangan takut melakukan perubahan. Jika kita sudah ada didasar kemalangan hidup, pilihan yang ada adalah perbaikan dan peningkatan taraf kehidupan. Tak mungkin kita turun lagi ke posisi bawah karena kita sudah sampai didasar kesulitan :-)
Jangan merasa rendah diri pada apa yang kita miliki sekarang. Sedikit apapun itu, itu adalah bagian dari kekayaan kita. Kirimi saya berita baik tentang anda, sedikit apapun peningkatan dan perbaikan kehidupan anda. Sedikit bagi anda mungkin bisa mengubah banyak hal bagi orang lain.

Sabtu, 25 Juni 2011

Makalah Pendidikan


KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik-Nya, Tuhan semesta alam yang senantiasa melimpahkan
rahmat, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami
yang berjudul “Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren”. Sholawat serta salam tetap
terlimpah curah tiada henti kepada makhluk terbaik-Nya, Nabi Muhammad Saw, yang
senantiasa kita harapkan syafaatnya.
Makalah ini kami susun atas dasar tugas yang telah diamanatkan kepada kami
oleh Bapak Dr. Phil. Khoirun Ni’am sebagai dosen pembimbing mata kuliah Teknik
Penulisan Karya Ilmiah. Kami sebagai penyusun, menyadari sepenuhnya bahwa dalam
makalah ini banyak sekali kekurangan. Untuk itu, kami senantiasa mengharap saran serta
kritik yang membangun. Akan tetapi, kami juga tetap berharap semoga makalah yang
telah kami susun ini senantiasa bermanfaat bagi pembacanya. Amin.
Surabaya, 31 Desember 2009
Penyusun

2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................................. i
KATA PENGANTAR................................................................................................ ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................
B. Rumusan Masalah.........................................................................................
C. Tujuan...........................................................................................................
BAB II : PESANTREN
A. Pengertian Pesantren.....................................................................................
B. Macam-Macam Pesantren.............................................................................
C. Dinamika Pesantren.......................................................................................
BAB III : MODERNISASI PENDIDIKAN PESANTREN
A. Sistem Pendidikan Pesantren.........................................................................
B. Beberapa Model Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren.........................
C. Pengaruh Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren....................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang
bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkan
sebagai pedoman hidup keseharian. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahun
yang lalu, serta telah menjangkau hamper seluruh lapisan masyarakat muslim.
Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa kolonialisme berlangsung,
pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang sangat berjasa bagi
masyarakat dalam mencerahkan dunia pendidikan. Tidak sedikit pemimpin
bangsa yang ikut memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini adalah alumni
atau setidak-tidaknya pernah belajar di pesantren.1
Namun, kini reputasi pesantren tampaknya dipertanyakan oleh
sebagian masyarakat Muslim Indonesia. Mayoritas pesantren masa kini
terkesan berada di menara gading, elitis, jauh dari realitas social. Problem
sosialisasi dan aktualisasi ini ditambah lagi dengan problem keilmuan, yaitu
terjadi kesenjangan, alienasi (keterasingan) dan differensiasi (pembedaan)
antara keilmuan pesantren dengan dunia modern. Sehingga terkadang lulusan
pesantren kalah bersaing atau tidak siap berkompetisi dengan lulusan umum
dalam urusan profesionalisme di dunia kerja. Dunia pesantren dihadapkan
kepada masalah-masalah globalisasi, yang dapat dipastikan mengandung
beban tanggung jawab yang tidak ringan bagi pesantren.2
Semakin disadari, tantangan dunia pesantren semakin besar dan berat
dimasa kini dan mendatang. Paradigma “mempertahankan warisan lama yang
1 Sambutan Setiawan Djody dalam Jamaludin Malik, Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet. I
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005). H. xii
2 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamaludin Malik, Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet I.
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005). H. xix-xxii
4
masih relevan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik” perlu direnungkan
kembali. Pesantren harus mampu mengungkai secara cerdas problem
kekiniankita dengan pendekatan-pendekatan kontemporer. Disisi lain,
modernitas, yang menurut beberapa kalangan harus segera dilakukan oleh
kalangan pesantren, ternyata berisi paradigm dan pandangan dunia yang telah
merubah cara pandang lama terhadap dunia itu sendiri dan manusia.3
Dalam konteks yang dilematis ini, pilihan terbaik bagi insane
pesantren adalah mendialogkannya dengan paradigm dan pandangan dunia
yang telah diwariskan oleh generasi pencerahan Islam. Maksudnya, insane
pesantren perlu memosisikan warisan masa lalu sebagai “teman dialog” bagi
modernitas dengan segala produk yang ditawarkannya. Mereka harus
membaca khazanah lama dan baru dalam frame yang terpisah. Masa lalu hadir
atau dihadirkan dengan terang dan jujur, lalu dihadapkan dengan kekinian.
Boleh jadi masa lalu tersebut akan tampak “basi” dan tak lagi relevan, namun
tak menutup kemungkinan masih ada potensi yang dapat dikembangkan untuk
zaman sekarang.4
Salah satu hal yang perlu dimodifikasi adalah system pendidikan
pesantren. System pembelajaran tradisional, yaitu sorogan, bandongan,
balaghan, atau halaqah seharusnya mulai diseimbangkan dengan system
pembelajaran modern. Dalam aspek kurikulum juga seharusnya kalangan
pesantren berani mengakomodasi dari kurikulum pemerintah.5
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pesantren?
2. Apa saja macam-macam pesantren?
3. Bagaimana dinamika pesantren mulai ada hingga sekarang?
4. Bagaimana system pendidikan pesantren?
3 Abd. A’la, Pembaruan Pesantren,Cet I (Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2006) h. v-ix.
4 Ibid. v-ix
5 Sigit Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulton Mashud, Moh. Khusnuridho. Manajemen
Pondok Pesantren, Cet. II ( Jakarta: Diva Pustaka, 2005) h. 5
5
5. Apa saja dan bagaimana model pendidikan dalam proses modernisasi
system pendidikan pesantren?
6. Apa pengaruh modernisasi system pendidikan pesantren terhadap
eksistensi pesantren itu sendiri?
6

Makalah Pendidikan


KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik-Nya, Tuhan semesta alam yang senantiasa melimpahkan
rahmat, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami
yang berjudul “Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren”. Sholawat serta salam tetap
terlimpah curah tiada henti kepada makhluk terbaik-Nya, Nabi Muhammad Saw, yang
senantiasa kita harapkan syafaatnya.
Makalah ini kami susun atas dasar tugas yang telah diamanatkan kepada kami
oleh Bapak Dr. Phil. Khoirun Ni’am sebagai dosen pembimbing mata kuliah Teknik
Penulisan Karya Ilmiah. Kami sebagai penyusun, menyadari sepenuhnya bahwa dalam
makalah ini banyak sekali kekurangan. Untuk itu, kami senantiasa mengharap saran serta
kritik yang membangun. Akan tetapi, kami juga tetap berharap semoga makalah yang
telah kami susun ini senantiasa bermanfaat bagi pembacanya. Amin.
Surabaya, 31 Desember 2009
Penyusun

2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................................. i
KATA PENGANTAR................................................................................................ ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................
B. Rumusan Masalah.........................................................................................
C. Tujuan...........................................................................................................
BAB II : PESANTREN
A. Pengertian Pesantren.....................................................................................
B. Macam-Macam Pesantren.............................................................................
C. Dinamika Pesantren.......................................................................................
BAB III : MODERNISASI PENDIDIKAN PESANTREN
A. Sistem Pendidikan Pesantren.........................................................................
B. Beberapa Model Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren.........................
C. Pengaruh Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren....................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang
bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkan
sebagai pedoman hidup keseharian. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahun
yang lalu, serta telah menjangkau hamper seluruh lapisan masyarakat muslim.
Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa kolonialisme berlangsung,
pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang sangat berjasa bagi
masyarakat dalam mencerahkan dunia pendidikan. Tidak sedikit pemimpin
bangsa yang ikut memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini adalah alumni
atau setidak-tidaknya pernah belajar di pesantren.1
Namun, kini reputasi pesantren tampaknya dipertanyakan oleh
sebagian masyarakat Muslim Indonesia. Mayoritas pesantren masa kini
terkesan berada di menara gading, elitis, jauh dari realitas social. Problem
sosialisasi dan aktualisasi ini ditambah lagi dengan problem keilmuan, yaitu
terjadi kesenjangan, alienasi (keterasingan) dan differensiasi (pembedaan)
antara keilmuan pesantren dengan dunia modern. Sehingga terkadang lulusan
pesantren kalah bersaing atau tidak siap berkompetisi dengan lulusan umum
dalam urusan profesionalisme di dunia kerja. Dunia pesantren dihadapkan
kepada masalah-masalah globalisasi, yang dapat dipastikan mengandung
beban tanggung jawab yang tidak ringan bagi pesantren.2
Semakin disadari, tantangan dunia pesantren semakin besar dan berat
dimasa kini dan mendatang. Paradigma “mempertahankan warisan lama yang
1 Sambutan Setiawan Djody dalam Jamaludin Malik, Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet. I
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005). H. xii
2 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamaludin Malik, Pemberdayaan Pesantren, Menuju
Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan, Cet I.
(Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005). H. xix-xxii
4
masih relevan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik” perlu direnungkan
kembali. Pesantren harus mampu mengungkai secara cerdas problem
kekiniankita dengan pendekatan-pendekatan kontemporer. Disisi lain,
modernitas, yang menurut beberapa kalangan harus segera dilakukan oleh
kalangan pesantren, ternyata berisi paradigm dan pandangan dunia yang telah
merubah cara pandang lama terhadap dunia itu sendiri dan manusia.3
Dalam konteks yang dilematis ini, pilihan terbaik bagi insane
pesantren adalah mendialogkannya dengan paradigm dan pandangan dunia
yang telah diwariskan oleh generasi pencerahan Islam. Maksudnya, insane
pesantren perlu memosisikan warisan masa lalu sebagai “teman dialog” bagi
modernitas dengan segala produk yang ditawarkannya. Mereka harus
membaca khazanah lama dan baru dalam frame yang terpisah. Masa lalu hadir
atau dihadirkan dengan terang dan jujur, lalu dihadapkan dengan kekinian.
Boleh jadi masa lalu tersebut akan tampak “basi” dan tak lagi relevan, namun
tak menutup kemungkinan masih ada potensi yang dapat dikembangkan untuk
zaman sekarang.4
Salah satu hal yang perlu dimodifikasi adalah system pendidikan
pesantren. System pembelajaran tradisional, yaitu sorogan, bandongan,
balaghan, atau halaqah seharusnya mulai diseimbangkan dengan system
pembelajaran modern. Dalam aspek kurikulum juga seharusnya kalangan
pesantren berani mengakomodasi dari kurikulum pemerintah.5
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pesantren?
2. Apa saja macam-macam pesantren?
3. Bagaimana dinamika pesantren mulai ada hingga sekarang?
4. Bagaimana system pendidikan pesantren?
3 Abd. A’la, Pembaruan Pesantren,Cet I (Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2006) h. v-ix.
4 Ibid. v-ix
5 Sigit Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulton Mashud, Moh. Khusnuridho. Manajemen
Pondok Pesantren, Cet. II ( Jakarta: Diva Pustaka, 2005) h. 5
5
5. Apa saja dan bagaimana model pendidikan dalam proses modernisasi
system pendidikan pesantren?
6. Apa pengaruh modernisasi system pendidikan pesantren terhadap
eksistensi pesantren itu sendiri?
6

Sabtu, 28 Mei 2011

Syukur di Kala Meraih Sukses

Di kala impian belum terwujud, kita selalu banyak memohon dan terus bersabar menantinya. Namun di kala impian sukses tercapai, kadang kita malah lupa daratan dan melupakan Yang Di Atas yang telah memberikan berbagai kenikmatan. Oleh karenanya, apa kiat ketika kita telah mencapai hasil yang kita idam-idamkan? Itulah yang sedikit akan kami kupas dalam tulisan sederhana ini.

Akui Setiap Nikmat Berasal dari-Nya

Inilah yang harus diakui oleh setiap orang yang mendapatkan nikmat. Nikmat adalah segala apa yang diinginkan dan dicari-cari. Nikmat ini harus diakui bahwa semuanya berasal dari Allah Ta’ala dan jangan berlaku angkuh dengan menyatakan ini berasal dari usahanya semata atau ia memang pantas mendapatkannya. Coba kita renungkan firman Allah Ta’ala,

“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49). Atau pada ayat lainnya,

“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)

Inilah tabiat manusia, yang selalu tidak sabar jika ditimpa kebaikan atau kejelekan. Ia akan selalu berdo’a pada Allah agar diberikan kekayaan, harta, anak keturunan, dan hal dunia lainnya yang ia cari-cari. Dirinya tidak bisa merasa puas dengan yang sedikit. Atau jika sudah diberi lebih pun, dirinya akan selalu menambah lebih. Ketika ia ditimpa malapetaka (sakit dan kefakiran), ia pun putus asa. Namun lihatlah bagaimana jika ia mendapatkan nikmat setelah itu? Bagaimana jika ia diberi kekayaan dan kesehatan setelah itu? Ia pun lalai dari bersyukur pada Allah, bahkan ia pun melampaui batas sampai menyatakan semua rahmat (sehat dan kekayaan) itu didapat karena ia memang pantas memperolehnya. Inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku.”(QS. Fushshilat: 50)

Sifat orang beriman tentu saja jika ia diberi suatu nikmat dan kesuksesan yang ia idam-idamkan, ia pun bersyukur pada Allah. Bahkan ia pun khawatir jangan-jangan ini adalah istidroj (cobaan yang akan membuat ia semakin larut dalam kemaksiatan yang ia terjang). Sedangkan jika hamba tersebut tertimpa musibah pada harta dan anak keturunannya, ia pun bersabar dan berharap karunia Allah agar lepas dari kesulitan serta ia tidak berputus asa.[1]

Ucapkanlah “Tahmid”

Inilah realisasi berikutnya dari syukur yaitu menampakkan nikmat tersebut dengan ucapan tahmid (alhamdulillah) melalui lisan. Ini adalah sesuatu yang diperintahkan sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Adh Dhuha: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Membicarakan nikmat Allah termasuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al Jaami’ no. 3014).

Lihat pula bagaimana impian Nabi Ibrahim tercapai ketika ia memperoleh anak di usia senja. Ketika impian tersebut tercapai, beliau pun memperbanyak syukur pada Allah sebagaimana do’a beliau ketika itu,

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39).

Para ulama salaf ketika mereka merasakan nikmat Allah berupa kesehatan dan lainnya, lalu mereka ditanyakan, “Bagaimanakah keadaanmu di pagi ini?” Mereka pun menjawab, “Alhamdulillah (segala puji hanyalah bagi Allah).”[2]

Oleh karenanya, hendaklah seseorang memuji Allah dengan tahmid (alhamdulillah) atas nikmat yang diberikan tersebut. Ia menyebut-nyebut nikmat ini karena memang terdapat maslahat dan bukan karena ingin berbangga diri atau sombong. Jika ia malah melakukannya dengan sombong, maka ini adalah suatu hal yang tercela.[3]

Memanfaatkan Nikmat dalam Amal Ketaatan

Yang namanya syukur bukan hanya berhenti pada dua hal di atas yaitu mengakui nikmat tersebut pada Allah dalam hati dan menyebut-nyebutnya dalam lisan, namun hendaklah ditambah dengan yang satu ini yaitu nikmat tersebut hendaklah dimanfaatkan dalam ketaaatan pada Allah dan menjauhi maksiat.

Contohnya adalah jika Allah memberi nikmat dua mata. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi Al Qur’an, jangan sampai digunakan untuk mencari-cari aib orang lain dan disebar di tengah-tengah kaum muslimin. Begitu pula nikmat kedua telinga. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk mendengarkan lantunan ayat suci, jangan sampai digunakan untuk mendengar lantunan yang sia-sia. Begitu pula jika seseorang diberi kesehatan badan, maka hendaklah ia memanfaatkannya untuk menjaga shalat lima waktu, bukan malah meninggalkannya. Jadi, jika nikmat yang diperoleh oleh seorang hamba malah dimanfaatkan untuk maksiat, maka ini bukan dinyatakan sebagai syukur.

Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan,

“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.”[4]

Mukhollad bin Al Husain mengatakan,

“Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.”[5]

Intinya, seseorang dinamakan bersyukur ketika ia memenuhi 3 rukun syukur: [1] mengakui nikmat tersebut secara batin (dalam hati), [2] membicarakan nikmat tersebut secara zhohir (dalam lisan), dan [3] menggunakan nikmat tersebut pada tempat-tempat yang diridhoi Allah (dengan anggota badan).

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan,

“Syukur haruslah dijalani dengan mengakui nikmat dalam hati, dalam lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan.”[6]

Merasa Puas dengan Rizki Yang Allah Beri

Karakter asal manusia adalah tidak puas dengan harta. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai haditsnya. Ibnu Az Zubair pernah berkhutab di Makkah, lalu ia mengatakan,

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)

Inilah watak asal manusia. Sikap seorang hamba yang benar adalah selalu bersyukur dengan nikmat dan rizki yang Allah beri walaupun itu sedikit. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667)

Dan juga mesti kita yakini bahwa rizki yang Allah beri tersebut adalah yang terbaik bagi kita karena seandainya Allah melebihkan atau mengurangi dari yang kita butuh, pasti kita akan melampaui batas dan bertindak kufur. Allah Ta’alaberfirman,

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.” Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan, “Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”[7]

Patut diingat pula bahwa nikmat itu adalah segala apa yang diinginkan seseorang. Namun apakah nikmat dunia berupa harta dan lainnya adalah nikmat yang hakiki? Para ulama katakan, tidak demikian. Nikmat hakiki adalah kebahagiaan di negeri akhirat kelak. Tentu saja hal ini diperoleh dengan beramal sholih di dunia. Sedangkan nikmat dunia yang kita rasakan saat ini hanyalah nikmat sampingan semata. Semoga kita bisa benar-benar merenungkan hal ini.[8]

Jadilah Hamba yang Rajin Bersyukur

Pandai-pandailah mensyukuri nikmat Allah apa pun itu. Karena keutamaan orang yang bersyukur amat luar biasa. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imron: 145)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7)

Ya Allah, anugerahkanlah kami sebagai hamba -Mu yang pandai bersyukur pada-Mu dan selalu merasa cukup dengan segala apa yang engkau beri.

Diselesaikan atas taufik Allah di Pangukan-Sleman, 23 Rabi’ul Akhir 1431 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Source : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/syukur-di-kala-meraih-sukses.html

[1] Lihat Taysir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 752, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H dan Tafsir Al Jalalain, hal. 482, Maktabah Ash Shofaa.



[2] Lihat Mukhtashor Minhajil Qoshidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 262, Darul Aqidah, cetakan pertama, tahun 1426 H.

[3] Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, hal. 202, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan tahun 1424 H.

[4] Jaami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab, 294, Darul Muayyid

[5] ‘Iddatush Shobirin, hal. 49, Mawqi’ Al Waroq

[6] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 11/135, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.

[7] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/278, Muassasah Qurthubah.

[8] Lihat Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hal. 266.

Source : http://islam-download.net?p=59859

Keutamaan Qiyamullail (Shalat Malam)

Keutamaan Qiyamullail (Shalat Malam)
Allah Ta’ala berfirman:
“Lambung-lambung mereka jauh dari pembaringan, karena mereka berdoa kepada Rabb mereka dalam keadaan takut dan berharap kepada-Nya.” (QS. As-Sajadah: 16)
Allah Ta’ala berfirman:
“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohon ampunan di waktu sahur (menjelang fajar).” (QS. Adz-Dzariyat: 17-18)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Seutama-utama puasa setelah ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163)
Dari Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah radhiallahu anhuma mereka berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka mereka berdua akan digolongkan ke dalam lelaki-lelaki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Abu Daud no. 1309, Ibnu Majah no. 1335, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah: 1/390)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan, jika dia berwudhu maka lepaslah tali yang lainnya, dan jika dia mendirikan shalat maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek dan menjadi malas beraktifitas”. (HR. Al-Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)
Dari Jabir bin Abdillah dia berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu dia memohon kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allah akan memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. Muslim no. 757)
Penjelasan ringkas:
Di antara keutamaan qiyamullail berdasarkan dalil-dalil di atas adalah:
a.    Mendapatkan pujian yang banyak dalam Al-Qur’an.
b.    Hatinya akan terjaga dari kerusakan dan penyakit hati. Karena terlalu banyak tidur bisa menyebabkan rusaknya hati, karenanya dengan qiyamullail dia bisa mengurangi tidurnya.
c.    Dia merupakan shalat sunnah yang paling utama.
d.    Orang yang mengerjakannya secara berkesinambungan akan digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah.
e.    Dia akan lepas dari gangguan setan di malam harinya.
f.    Qiyamullail merupakan sebab baiknya jiwa, lapangnya dada, dan semangatnya anggota tubuh.
g.    Orang yang mengerjakannya berkesempatan mendapatkan 1/3 malam terakhir yang merupakan waktu dimana doa akan dikabulkan.
Dan sebaik-baik doa saat itu adalah permohonan ampun akan semua dosa-dosa, sebagaimana yang diisyaratkan dalam surah Adz-Dzariyat di atas.
Source: http://al-atsariyyah.com/keutamaan-qiyamul.html

Sabtu, 15 Januari 2011

BUMY untuk YAYASAN?

Wacana tentang pengadaan Badan Usaha Milik Yayasan (BUMY) semakin mengemuka di lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Wasilatul Huda Dukohkidul. Wacana ini diusung oleh Bapak Khoirul Anam, S.Ag. beberapa hari yang lalu. Namun Khoirul Anam, S.Ag. menyayangkan ketidakresponan dari beberapa pihak yang terkait dengan program tersebut. Padahal BUMY ini sangatlah penting yang akan bisa membuat Yayasan kita ini tetap survive di masa-masa yang akan datang, lanjutnya.

Adanya keuangan yayasan yang  hanya bergantung pada dan yang dikucurkan oleh pemerintah saja ini, sangatlah menghawatirkan demi keberlangsungan yayasan pada masa-masa yang akan datang. Dengan kata lain BUMY ini adalah sebuah keniscayaan yang penting untuk segera direalisasikan.
Menurut beliau, BUMY ini kedepannya akan diproyeksikan sebagai badan otonom yayasan yang menangani masalah usaha-usaha perekonomian Yayasan. Dengan beberapa usaha yang realisitis, dan bisa memberi manfaat bagi Yayasan sendiri dan juga masyarakat sebagai relasi kinerja BUMY nantinya.
Masih menurut beliau, selain dalam hal BUMY ini, sebenarnya Yayasan masih perlu banyak pembenahan. Salah satunya adalah bahwa selama ini kinerja Yayasan terkesan tak bervisi dan hanya mengalir tanpa program yang jelas. Oleh karena itu, semua pengurus yayasan perlu bermusyawarah bersama, menyamakan persepsi tentang apa sebenarnya Visi dan Misi YPPWH ini. Baru setelah Visi Misinya jelas, kita melangkah ke program-program dan kegiatan sebagai follow upnya.

Rabu, 29 April 2009

romantiskah kita?


Romantiskah hubungan kita?
26 mei 2009

Alloh menciptakan kita dengan dua peran. Yakni sebagai hambanya dan sebagai khalifahnya di muka bumi. Keduanya hendaknya dilaksanakan secara seimbang. Kita sebagai hambanya berkewajiban untuk melakukan ubudiyah ilahiah, atau ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah. Seperti shalat dan haji. Sedangkan sebagai khalifahnya kita berkewajiban untuk mengejawantahkan sifat-sifat demi untuk meraih rahmatan lil alamin.
Seperti yang kita ketahui, islam datang tidak hanya mengatur hubungan hambanya dengan Dia. Malainkan juga adalah hubungan antar sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam. Jadi manusia memiliki tiga hubungan sosial yang harus bejalan dengan harmonis, 1, hablun min Alloh, 2, hamblun minannas dan 3 hablun minal alam. Jika ketiga hubungan tersebut berjalan romantis, maka kemungkinan barulah kita bisa merasakan rahmatan lil alamin. Rahmat lil alamin dengan kata lain haruslah kita perjuangkan bersama-sama.
Nah, sekarang masilah kita muhasabah/mencoba dengan jujur mengintropeksi diri kita sendiri bagaimanakah kita menjalin ketiga hubungan di atas.
Pertama, sebagai hambanya apakah kita sudah melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya?
Ke dua, sebagai khalifahnya di muka bumi ini, sejauh manakah kepedulian kita terhadap saudara dekat kita, terhadap tetangga kita, terhadap teman kita, terhadap masyarakat kita dan terhadap negara kita. Ataukah selama ini kita hanya sibuk untuk memikirkan tentang kebahagiaan kita sendiri. Ketika kita makan dengan enaknya, apakah pernah kita teringat terhadap mereka yang sudah tiga hari tidak hidup dengan perut kosong. Ketika kita tidur di atas ranjang yang empuk, pernahkah kita sekedar memikirkan tentang mereka yang tidur dengan alas kardus, di depan-depan toko, di bawah kolong jembatan, dan di pinggiran rel kereta api. Ketika kita berbangga dengan title yang kita sandang, apakah itu Prof, Dr, M.pd, dan lain sebagainya, pernahkah kita terbersit untuk membagi ilmu kita dengan mereka yang yang masih bergelimang kebodohan.
Betapa oh betapa tidak berharganya ilmu yang kita miliki, ketika kita tidak bisa berbagi ilmu dengan yang lain. Betapa tidak berharganya harta yang kita miliki, ketika di kanan kiri kita mereka masih bergelimang dengan pilu dan perih. Betapa tidak berharganya hati yang kita miliki, ketika kita tidak bisa peduli dengan sesama.
Ke tiga, sejauh mana kepedulian kita terhadap kelestarian alam. Dimana alam sekarang ini sudah demikian rusaknya. Hutan-hutan yang gundul, kota yang selalu tergenang air dan bumi selalu retak. Apa yang sudah kita lakukan untuk melestarikan kehidupan alam kita ini. Sedangkan kita tahu, bahwa alam memiliki peran penting dalam melanjutkan kehidupan manusia. Bencana-bencana yang silih berganti seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menjadi peringatan bagi kita untuk segera merubah dan memperbaiki ketiga hubungan di atas. Semoga kita termasuk hambanya yang bisa menjadi pemimpin sejati, bukan pemimpin yang berkedudukan, tapi pemimpin yang sebenarnya. Amin.

kejujuran


Masih adakah kejujuran itu?
26 mei 2009
Seiring dengan bertambah kompleksnya kehidupan di sekitar kita, diakui atau tidak pasti berpengaruh terhadap pola pergaulan dan tatanan nilai sosial. Termasuk di dalamnya adalah memudarnya nilai kejujuran.
Bahkan sekarang, untuk membendung hal tersebut Bupati Bojonegoro Sekarang, Kang Yoto menekankan masalah pakta kejujuran terhadap semua jajaran pejabat di bawahnya. Pertanyaannya adalah apakah mungkin kejujuran masih dapat berdiri tegak lagi. Sedangkan hati masyarakatnya seperti tanah yang telah mengeras seperti batu karena jarang mendapatkan air hujan. Manakah mungkin kita menancapkan tiang di atasnya.
Bahkan kini kejujuran mengalami dikonotasikan dengan ke”lugu”an. Orang-orang yang masih memegang prinsip kejujuran dianggap sebagai orang yang masih lugu atau polos, yang sama sekali mudah untuk ditipu dan diperdayai.
Keadaan sekarang ini seperti memaksakan kita untuk memendam kejujuran, hingga kalimat “Jujur bakale Ajur” seperti sebuah pepatah yang sembilanpuluhpersen benar. Jika pandangan setiap orang seperti itu, maka apakah masih mungkin kujujuran itu bisa tumbuh. Kejujuran personal satu-dua orang mungkin masih ada, namun tak mampu membangun kejujuran kolektif. Padahal sebuah tatanan nilai haruslah didukung oleh kesamaan perspektif halayak masyarakat. Jika tidak maka akan terjadi kepincangan, ketika kejujuran dibalas dengan perdaya.
Persoalan dalam kehidupan kita kian kompleks. Dan salah satu pendukung utamanya adalah tiadanya kejujuran. Para pejabat melakukan korupsi karena tak mempunyai kejujuran itu. Dan telah nyata, seorang bendahara kebanyakan mempunyai dua pembukuan. Pertama adalah buku pintar, dan yang ke dua adalah buku bento. Buku pintar adalah buku yang berisikan tentang pembukuan keuangan yang sebenarnya. Sedangkan buku bento adalah sebuah pembukuan keuangan yang menipu dan hanya berusaha menyesuaikan dengan alokasi bajet seharusnya.
Para pedagang juga sudah banyak yang tidak jujur. Seperti penjual abon sapi yang ternyata isinya adalah daging babi. Bahkan ada yang menjual daging bangkai yang diakui sebagai daging segar. Padahal daging tersebut sudah lama, dan memang bisa bertahan lama karena diberikan formalin. Bahkan penjualan formalin yang sekarang sudah diperketat pun masih bisa saja dicurangi. Katidakjujuran seperti sebuah keharusan yang tiap orang sekarang erat sekali dengannya.
Oleh karena itu, kita harus mengawali dari diri kita sendiri. Ibda’ binafsik. Biarkan orang lain mencoba menipu, kita harus bulatkan tekad untuk tetap jujur. Karena pasti becik ketitik ala ketara. Siapa yang berbuat kebaikan seberat biji zarrah, maka dia akan melihatnya, dan siapa yang berbuat kejahatan seberat biji zarrah pun, dia juga akan melihatnya kelak di akhirat. Kecuali mereka yang bertaubat dan kembali pada jalan Allah. Semoga kita termasuk dari golongan hambanya yang saleh dan kelak kembali dalam pelukan kasih sayangnya. Amin.