Senin, 04 Juli 2011

Dinamisme dan Teori Kekuatan Luar Biasa Dalam Al-Qur’an


.           
Perkataandinamisme berasal dari kata yang terdapat dalam bahasa Yunani, yaitu, dunamosdan diinggriskan menjadi dynamic yang umumnya diterjemahkan ke dalambahasa Indonesia dengan kekuatan, kekuasaan atau khasiat dan dapat jugaditerjemahkan dengan daya.
Selanjutnyadinamisme ada yang mengartikan dengan “sejenis paham dan perasaan keagamaanyang terdapat diberbagai bagian dunia, pada berjenis-jenis bangsa dan menunjukkanbanyaknya persamaan-persamaan”. demikian Honig mengartikannya. Dr. Harun Nasutiontidak mendefenisikan dinamisme secara tegas hanya menerangkan bahwa “bagimanusia premitif, yang tingkat kebudayaannya masih rendah sekali, tiap-tiapbenda yang berada di sekelilingnya bisa mempunyai kekuatan batin yangmisterius”.
DalamEnsiklopedi umum dijumpai defenisi dinamisme sebagai kepercayaan keagamaanpremitif pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Dinamismedisebut juga preanismisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda ataumakhluk mempunyai mana (percaya adanya kekuatan yang maha yang beradadimana-mana).


T.S.G. Muliamenerangkan dinamisme sebagai suatu kepercayaan bahwa pada berbagai bendaterdapat suatu kekuatan atau kesaktian, misalnya dalam api, batu-batu,tumbuh-tumbuhan, pada beberapa hewan dan juga manusia.
Dinamismesendiri dapat juga diartikan lebih lanjut sebagai kepercayaan kepada suatu dayakekuatan atau kekuasaan yang teramat dan tidak pribadi, yang dianggap halusmaupun berjasad yang dapat dimiliki maupun tidak dapat dimiliki oleh benda,binatang dan manusia.
Kalau kitapindah dari teori kekuatan luar biasa seperti yang dikemukan oleh Max Muller(1823 - 1900) dalam bukunya The Growth of Religion (1880), maka sebenarnyadalam Al-Qur’an banyak kita dapati menyebutkan gejala-gejala alam yangmendasyat dan luar  biasa.
Gejala-gejalayang luar biasa ini mungkin juga ada diisyaratkan dalam Al-Qur’an sepertiterdapat dari ayat-ayat berikut :
1.     Diantartanda adanya Tuhan ialah dia memperlihatkan kepada engkau sekalian kilat, untukmenimbulkan ketakutan dan harapan (Q. 30 : 24).
2.     Gunturmenyucikan keagungan Tuhan dan Malaikat-malaikat juga, karena takut kepada-Nya,dan Tuhan menurunkan petir-Nya kemudian menimpakan kepada siapa yangdikehendaki-Nya (Q. 13 : 13).
Bahkan Al-Qur’antidak hanya mencukupkan dengan mengingatkan peristiwa-peristiwa yang mendasyatdan  terjadi benar-benar, tetapi Al-Qur’an juga memperingatkankejadian-kejadian mendatang sewaktu-waktu atau hal-hal yang mungkin terjaditanpa dinantikan. Antara lain disebut dalam ayat berikut ini :
“Tidaklah merekamelihat apa yang ada di depan dan di belakang mereka, berupa langit dan bumi.Kalau kami menghendaki tentu kami membalikkan bumi di atas mereka, atau kamijatuhkan atas mereka gumpalan-gumpalan dari langit”.
Agama dalam artiobyektif ialah segala apa yang kita percayai, sedang agama dalam arti subyektifialah dengan cara bagaimana kita berdiri di hadapan Tuhan dan bagaimana kitaharus berkelakuan mentaati segala perintah-Nya dan meninggalkan segalalarangan-Nya.
Dalam uraiantentang dinamisme terdapat beberapa pengertian atau defenisi yang diberikanterhadap dinamisme itu yang menghubungkannya langsung dengan agama. Ada yangmengatakan dinamisme sebagai sejenis paham dan perasaan keagamaan, ada jugayang mengatakan sebagai kepercayaan keagamaan dan juga sebagai salah satu macambentuk struktur dari agama premitif.
Semua pengertianini memperlihatkan suatu sikap yang sama yaitu keragu-raguan dalam menetapkan apakahdinamisme itu termasuk agama atau bukan, dengan kata lain orang tidak berani(tentu dengan alasan-alasan yang objektif) berkata bahwa dinamisme itu adalahagama atau sebaliknya, dinamisme itu bukan agama.

Kembali kepadadinamisme, maka dinamisme timbul dari perasaan takjub, takut dan merasa bahwadirinya kecil sebagai manusia dan bergantung kepada daya-daya kekuatansekitarnya. Mereka melihat sesuatu yang bersifat ilahi di dunia ini, tapi tidakdilukiskannya dalam pikiran sebagai sesuatu yang berpribadi.
Oleh sebab ituselamanya tidak terjadi hubungan engkau dan aku, tidak ada hubungan kepribadianantara dia dengan benda pujaannya. Sebab itu segala pengertian khusus yang adadi dalam agama seperti do’a, kurban, puasa dan sebagainya itu dalam arti tertentu,dalam dinamisme diubah bentuknya. Do’a menjadi mantera, suatu perbuatan yangmengandung daya kekuatan dan menimbulkan keajaiban-keajaiban, hilang sifatnyamemohonnya kepada Allah. Do’a menjadi rumus yang sakti, yang di Jawa disebutJapamantra. Kurban menjadi suatu perbuatan magis yang mengeluarkan dayakekuatan sendiri, lepas dari ikatan ketuhanan. Begitu juga puasa diganti dengantarak atau bertapa untuk mendapatkan daya kekuatan yang luar biasa.
Di dalamdinamisme pemujaan dan takut kepada daya-daya gaib yang luar biasa yangterdapat di dunia dan pada benda-benda itu dapat dibandingkan dengan agamapagan (agama suku, agam daerah atau agama etnis-premitif). Akan tetapi jikapemujaan itu berbalik menjadi praktek magis, maka dia menjadi lain sama sekali,karena penyembahan berubah menjadi menggagahi dan atau memperalat secara paksa.
Maka, sepanjang dinamisme tetap kepada kepribadiannya, yaitu memuja danmempercayai kekuatan gaib, tidak  berbalik menjadi magis yang memperkosakekuatan gaib itu, dapatlah kiranya dia dimasukkan ke dalam kelompok agamapagan, syirik dan tidak ada ampunan Allah bagi orang-orang yang menyembahselain kepada Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar