Senin, 04 Juli 2011

Dari mana nama ‘Kalijaga’ muncul?



Pertanyaan ini masih menjadimisteri dan bahan silang pendapat di antara para pakar sejarah hingga hari ini.Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga diCirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat eratdengan Sunan Gunung Jati. Ini dihubungkan dengan kebiasaan wong Cerbonuntuk menggelari seseorang dengan daerah asalnya –seperti gelar Sunan GunungJati untuk Syekh Syarif Hidayatullah, karena beliau tinggal di kaki GunungJati.
Fakta menunjukan bahwaternyata tidak ada ‘kali’ di sekitar dusun Kalijaga sebagai ciri khas dusunitu. Padahal, tempat-tempatdi Jawa umumnya dinamai dengan sesuatu yang menjadi ciri khas tempat itu.Misalnya nama Cirebon yang disebabkan banyaknya rebon (udang), atau namaPekalongan karena banyaknya kalong (Kelelawar). Logikanya, nama ‘DusunKalijaga’ itu justru muncul setelah Sunan Kalijaga sendiri tinggal di dusunitu. Karena itu, klaim Masyarakat Cirebon ini kurang dapat diterima.

Riwayat lain datang darikalangan Jawa Mistik (Kejawen). Mereka mengaitkan nama ini dengan kesukaan waliini berendam di sungai (kali) sehingga nampak seperti orang yang sedang “jagakali”. Riwayat Kejawen lainnya menyebut nama ini muncul karena Joko Said pernahdisuruh bertapa di tepi kali oleh Sunan Bonang selama sepuluh tahun. Pendapatyang terakhir ini yang paling populer. Pendapat Ini bahkan diangkat dalam film‘Sunan Kalijaga’ dan ‘Walisongo’ pada tahun 80-an. Saya sendiri kurang sepahamdengan kedua pendapat ini.Secara sintaksis, dalam tata bahasa-bahasa di PulauJawa (Sunda dan Jawa) dan segala dialeknya, bila ada frase yang menempatkankata benda di depan kata kerja, itu berarti bahwa kata benda tersebut berlakusebagai subjek yang menjadi pelaku dari kata kerja yang mengikutinya. Sehinggabila ada frase ‘kali jaga’ atau ‘kali jogo’ berarti ada ‘sebuah kali yangmenjaga sesuatu’. Ini tentu sangat janggal dan tidak masuk akal.
Bila benar bahwa nama itudiperoleh dari kebiasaan Sang Sunan kungkum di kali atau karena beliau pernahmenjaga sebuah kali selama sepuluh tahun non-stop (seperti dalam film), makaseharusnya namanya ialah “Sunan Jogo Kali” atau “Sunan Jaga Kali”. Kemudiansecara logika, silakan anda pikirkan masak-masak. Mungkinkah seorang da’imenghabiskan waktu dengan kungkum-kungkum di sungai sepanjang hari? Tentu sajatidak. Sebagai da’i yang mencintai Islam dan Syi’ar-nya, tentu ada banyak halberguna yang dapat beliau lakukan. Riwayat Kejawen bahwa beliau bertapa selamasepuluh tahun non-stop di pinggir kali juga merupakan riwayat yang tidak masukakal. Bagaimana bisa seorang ulama saleh terus-menerus bertapa tanpamelaksanakan shalat, puasa, bahkan tanpa makan dan minum? Karena itu, dalampendapat saya, kedua riwayat itu ialah riwayat batil dan tidak bisadipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Pendapat yang paling masukakal ialah bahwa sebenarnya nama ‘kalijaga’ berasal dari bahasa Arab “Qadli’dan nama aslinya sendiri, ‘Joko Said’, jadi frase asalnya ialah ‘Qadli JokoSaid’ (Artinya Hakim Joko Said). Sejarah mencatat bahwa saat Wilayah(Perwalian) Demak didirikan tahun 1478, beliau diserahi tugas sebagai Qadli(hakim) di Demak oleh Wali Demak saat itu, Sunan Giri. Masyarakat Jawa memilikiriwayat kuat dalam hal ‘penyimpangan’ pelafalan kata-kata Arab, misalnyaistilah Sekaten (dari ‘Syahadatain’), Kalimosodo (dari ‘Kalimah Syahadah’),Mulud (dari Maulid), Suro (dari Syura’), Dulkangidah (dari Dzulqaidah), danmasih banyak istilah lainnya. Maka tak aneh bila frase “Qadli Joko” kemudiantersimpangkan menjadi ‘Kalijogo’ atau ‘Kalijaga’.
Posisi Qadli yang dijabat olehKalijaga alias joko Said ialah bukti bahwa Demak merupakan sebuah kawasanpemerintahan yang menjalankan Syariah Islam. Ini diperkuat oleh kedudukan SunanGiri sebagai Wali di Demak. Istilah ‘Qadli’ dan ‘Wali’ merupakan nama-namajabatan di dalam Negara Islam. Dari sini sajasudah jelas, siapa Sunan Kalijagasebenarnya; ia adalahseorang Qadli, bukan praktisi Kejawenisme.

Da’wah Sunan Kalijaga adalah Da’wah Islam,Bukan Da’wah Kejawen atau Sufi-Pantheistik

Kita kembali ke Sunan Kalijagaalias Sunan Qadli Joko. Riwayat masyhur mengisahkan bahwa masa hidup SunanKalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Ini berarti bahwa beliaumengalami masa akhir kekuasaan Majapahit pada 1478, Kesultanan Demak,Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, bahkan hingga Kerajaan Pajang (lahirpada 1546) serta awal kehadiran Kerajaan Mataram. Bila riwayat ini benar, makakehidupan Sunan Kalijaga adalah sebuah masa kehidupan yang panjang.
Manuskrip-manuskrip danbabad-babad tua ternyata hanya menyebut-nyebut nama beliau hingga zamanKesultanan Cirebon saja, yakni hingga saat beliau bermukim di dusun Kalijaga.Dalam kisah-kisah pendirian Kerajaan Pajang oleh Jaka Tingkir dan KerajaanMataram oleh Panembahan Senopati, namanya tak lagi disebut-sebut. Logikanyaialah, bila saat itu beliau masih hidup, tentu beliau akan dilibatkan dalammasalah imamah di Pulau Jawa karena pengaruhnya yang luas di tengah masyarakatJawa. Fakta menunjukan bahwa makamnya berada di Kadilangu, dekat Demak, bukandi Pajang atau di kawasan Mataram (Yogyakarta dan sekitarnya) –tempat-tempat dimana Kejawen tumbuh subur. Perkiraan saya, beliau sudah wafat saat Demak masihberdiri.
Riwayat-riwayat yang batilbanyak menceritakan kisah-kisah aneh tentang Sunan Kalijaga –selain kisahpertapaan sepuluh tahun di tepi sungai. Beberapa kisah aneh itu antara lain,bahwa beliau bisa terbang, bisa menurunkan hujan dengan hentakan kaki,mengurung petir bernama Ki Ageng Selo di dalam Masjid Demak dan kisah-kisahlain yang bila kita pikirkan dengan akal sehat nan intelek tidak mungkin bisamasuk ke dalam otak manusia. Kisah-kisah aneh macam itu hanya bisa dipercayaoleh orang gila yang gemar sihir. Ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis danberbau Hindu-Budha serta Kejawen. Padahal fakta tentang kehidupan SunanKalijaga adalah Da’wah dan Syi’ar Islam yang indah. Buktinya sangat banyaksekali. Sunan Kalijaga adalah perancang pembangunan Masjid Agung Cirebon danMasjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu daritiang utama masjid adalah kreasi peninggalan Sunan Kalijaga. Mana mungkinseorang kejawen ahli mistik mau-maunya mendirikan Masjid yang jelas-jelasmerupakan tempat peribadatan Islam.
Paham keagamaan Sunan Kalijagaadalah salafi –bukan sufi-panteistik ala Kejawen yang ber-motto-kan‘Manunggaling Kawula Gusti’. Ini terbukti dari sikap tegas beliau yang ikutberada dalam barisan Sunan Giri saat terjadi sengketa dalam masalah ‘kekafiran’Syekh Siti Jenar dengan ajarannya bahwa manusia dan Tuhan bersatu dalam dzatyang sama.
Kesenian dan kebudayaanhanyalah sarana yang dipilih Sunan Kalijaga dalam berdakwah. Beliau memangsangat toleran pada budaya lokal. Namun beliau pun punya sikap tegas dalammasalah akidah. Selama budaya masih bersifat transitif dan tidak bertentangandengan ajaran Islam, beliau menerimanya. Wayang beber kuno ala Jawa yangmencitrakan gambar manusia secara detail dirubahnya menjadi wayang kulit yangsamar dan tidak terlalu mirip dengan citra manusia, karena pengetahuannya bahwamenggambar dan mencitrakan sesuatu yang mirip manusia dalam ajaran Islam adalahharam hukumnya. Cerita yang berkembang mengisahkan bahwa beliau seringbepergian keluar-masuk kampung hanya untuk menggelar pertunjukan wayang kulitdengan beliau sendiri sebagai dalangnya. Semua yang menyaksikan pertunjukanwayangnya tidak dimintai bayaran, hanya diminta mengucap dua kalimah syahadat.Beliau berpendapat bahwa masyarakat harus didekati secara bertahap. Pertamaberislam dulu dengan syahadat selanjutnya berkembang dalam segi-segi ibadah danpengetahuan Islamnya. Sunan Kalijaga berkeyakinan bahwa bila Islam sudahdipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Lakon-lakon yang dibawakanSunan Kalijaga dalam pagelaran-pagelarannya bukan lakon-lakon Hindu macamMahabharata, Ramayana, dan lainnya. Walau tokoh-tokoh yang digunakannya sama(Pandawa, Kurawa, dll.) beliau menggubah sendiri lakon-lakonnya, misalnyaLayang Kalimasada, Lakon Petruk Jadi Raja yang semuanya memiliki ruh Islam yangkuat. Karakter-karakter wayang yang dibawakannya pun beliau tambah dengankarakter-karakter baru yang memiliki nafas Islam. Misalnya, karakter Punakawanyang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng adalah karakter yang saratdengan muatan Keislaman.
  1. Istilah ‘Dalang’ berasal dari bahasa Arab, ‘Dalla’ yang artinya menunjukkan. Dalam hal ini, seorang ‘Dalang’ adalah seseorang yang ‘menunjukkan kebenaran kepada para penonton wayang’. Mandalla’alal Khari Kafa’ilihi (Barangsiapa menunjukan jalan kebenaran atau kebajikan kepada orang lain, pahalanya sama dengan pelaku kebajikan itu sendiri –Sahih Bukhari)
  2. Karakter ‘Semar’ diambil dari bahasa Arab, ‘Simaar’ yang artinya Paku. Dalam hal ini, seorang Muslim memiliki pendirian dan iman yang kokoh bagai paku yang tertancap, Simaaruddunyaa.
  3. Karakter ‘Petruk’ diambil dari bahasa Arab, ‘Fat-ruuk’ yang artinya ‘tingggalkan’. Maksudnya, seorang Muslim meninggalkan segala penyembahan kepada selain Allah, Fatruuk-kuluu man siwallaahi.
  4. Karakter ‘Gareng’ diambil dari bahasa Arab, ‘Qariin’ yang artinya ‘teman’. Maksudnya, seorang Muslim selalu berusaha mencari teman sebanyak-banyaknya untuk diajak ke arah kebaikan, Nalaa Qaarin.
  5. Karakter ‘Bagong’ diambil dari bahasa Arab, ‘Baghaa’ yang artinya ‘berontak’. Maksudnya, seorang Muslim selalu berontak saat melihat kezaliman.
Seni ukir, wayang, gamelan, baju takwa, perayaansekatenan, grebeg maulud, serta seni suara suluk yang diciptakannya merupakansarana dakwah semata, bukan budaya yang perlu ditradisikan hingga berkaratdalam kalbu dan dinilai sebagai ibadah mahdhah. Beliau memandang semua itusebagai metode semata, metode dakwah yang sangat efektif pada zamannya. Secarafilosofis, ini sama dengan da’wah Rasulullah Saw yang mengandalkan keindahansyair Al Qur’an sebagai metode da’wah yang efektif dalam menaklukkan hatisuku-suku Arab yang gemar berdeklamasi.
Tak dapat disangkal bahwa kebiasaan keluar-masuk kampungdan memberikan hiburan gratis pada rakyat, melalui berbagai pertunjukan seni,pun memiliki nilai filosofi yang sama dengan kegiatan yang biasa dilakukanKhalifah Umar ibn Khattab ra. yang suka keluar-masuk perkampungan untukmemantau umat dan memberikan hiburan langsung kepada rakyat yangmembutuhkannya. Persamaan ini memperkuat bukti bahwa Sunan Kalijaga adalahpemimpin umat yang memiliki karakter, ciri, dan sifat kepemimpinan yang biasadimiliki para pemimpin Islam sejati, bukan ahli Kejawen.
Budaya sebanarnya dapat dijadikan media untuk memahamiagama, apalagi untuk bangsa atau daerah yang mempunyai kebudayaan local yangbegitu kental. Di daerah pedalaman atau yang peradabannya sedikit tertinggalbiasanya kebudayaan local lebih memiliki dampak yang serius dibandingakanagama, peraturan pemerintah dan lain-lain.
Akan mudah diterima jika kita mengajarkan hal yang barukepada seseorang ataupun kepada suatu kelompok bila ajaran itu tidak berbaupemaksaan. Bila lebih lembut dan mengikuti apa yang dianut oleh orang yang kitaajarkan akan lebih mudah. Karenamereka akan merasa nyaman dan secara tidak langsung mereka akan terbawa apayang kita ajarkan.
Begitu juga dalam mengajarkanagama. Sebagai islam adalah agama yang moderat, tidak ada pemaksaan dalampenyebaran dan memahami islam. Semua dilakukan dengan lemah lebut dan tindakanyang baik. Metode ini pun diterapkan oleh tokoh terkemuka di Indonesia, yaitupara wali songo yang mengajarkan islam dengan menggunakan budaya local untukmemudahkan pemahaman agama islam.
Harian Duta Masyarakat mengungkap,sebenarnya Islam masuk Nusantara sejak zaman Rasulullah. Yakni berdasarkanliteratur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan ArabIslam di pesisir Sumatera (Barus). Kemudian Marcopolo menyebutkan, saatpersinggahannya di Pasai tahun 692 H/1292 M, telah banyak orang Arabmenyebarkan Islam. Begitu pula Ibnu Bathuthah, pengembara muslim, yang ketikasinggah di Aceh tahun 746 H/1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebarmazhab Syafii. Tapi baru abad 9 H (abad 15 M) penduduk pribumi memeluk Islamsecara massal (Duta Masyarakat, 28-30 Maret 2007). Masa itu adalah masadakwah Walisongo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar