Jumat, 01 Juli 2011

Pengertian / Arti Al-Hadits


2.1.1.     Al-Hadits
Hadits secara harfiah berarti perkataanatau percakapan. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataandari Nabi Muhammad SAW. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan maknasehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda),perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikanketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agamaIslam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur’an.Hadits nabi adalah catatan segala tindak tanduk nabi yang tertuang dalamucapan, sikap dan diamnya nabi.

Klasifikasi Hadits
2.1.1.1.     Berdasarkan Ujung Sanad

Sanad ialah rantai penutur/perawi(periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yangmencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapaiRasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambildari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah:

Al-Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Syu’bah> Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW
Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad denganjumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya, lapisan dalam sanaddisebut dengan thaqabah. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiapthaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut, hal ini dijelaskanlebih jauh pada klasifikasi hadits.
Berdasarkan klasifikasi ini haditsdibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat), mauquf (terhenti) danmaqtu' :
·        Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi MuhammadSAW (contoh:hadits sebelumnya)
·        Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpaada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajatmarfu'. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikanbahwa Abu Bakar, Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah(diperlakukan seperti) ayah". Namun jika ekspresi yang digunakan sahabatseperti "Kami diperintahkan..", "Kami dilarang untuk...","Kami terbiasa... jika sedang bersama rasulullah" maka derajat haditstersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.
·        Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus).Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnyabahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama, makaberhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu".
Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangatbergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupunpenuturnya. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasiini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabatmaupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih( Suhaib Hasan, Science of Hadits).
2.1.1.2.     Berdasarkan Keutuhan Rantai / Lapisan Sanad
Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadibeberapa golongan yakni Musnad, Munqati', Mu'allaq, Mu'dal dan Mursal. Keutuhanrantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkansecara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya.
Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Parasahabat) > Rasulullah SAW
·        Hadits Musnad, sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimilikihadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Yakni urutan penuturmemungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi.
·        Hadits Mursal, bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorangtabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in(penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskanadanya sahabat yang menuturkan kepadanya).
·        Hadits Munqati’, bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3
·        Hadits Mu'dal, bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut.
·        Hadits Mu'allaq, bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorangpencatat hadits mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullahmengatakan...." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hinggaRasulullah).
2.1.1.3.     Berdasarkan JumlahPenutur
Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalamtiap tingkatan dari sanad, atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yangmenjadi sanad hadits tersebut. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atashadits Mutawatir dan hadits Ahad.
·        Hadits mutawatir, adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang daribeberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untukberdusta bersama akan hal itu. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanaddan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Paraulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagianmenetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadits mutawatir sendiridapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama padatiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna samapada tiap riwayat)
·        Hadits ahad, hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidakmencapai tingkatan mutawatir. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenisantara lain :
o   Gharib, bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisanterdapat hanya satu penutur, meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur)
o   Aziz, bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satulapisan)
o   Mashur, bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penuturpada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir.
2.1.1.4.     Berdasarkan TingkatKeaslian Hadits
Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasiyang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan ataupenolakan terhadap hadits tersebut. Tingkatan hadits pada klasifikasi initerbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, da'if dan maudu'
·        Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Haditsshahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.     Sanadnya bersambung;
2.     Diriwayatkan olehpenutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik,terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
3.     Matannya tidak mengandungkejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidaknyata yg mencacatkan hadits .
·        Hadits Hasan, bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan olehrawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz sertacacat.
·        Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal,mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal) dan diriwayatkan oleh orang yangtidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.
·        Hadits Maudu’, bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnyadijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.
2.1.1.5.     Hadits Jenis-Jenis Lain
Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidakdisebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:
·        Hadits Matruk, yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanyadirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.
·        Hadits Mungkar, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemahyang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yangterpercaya/jujur.
·        Hadits Mu'allal, artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yangdidalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalanibahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidikiternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma'lul (yangdicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat)
·        Hadits Mudlthorib, artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan olehseorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dankontradiksi dengan yang dikompromikan
·        Hadits Maqlub, yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ilehperawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknyabaik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi)
·        Hadits Gholia, yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannyaberubah
·        Hadits Mudraj, yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya
·        Hadits Syadz, Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawiorang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkandari perawi-perawi yang lain.
·        Hadits Mudallas, disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu Hadits yangdiriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak adacacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad atau pada gurunya. JadiHadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar