Jumat, 01 Juli 2011

Perubahan Kondisi Masyarakat setelah Masuknya Islam ke Indonesia



Hampir seluruh masyarakat keturunanArab di Indonesia nenek moyang mereka berasal dari Hadramaut. Sebelum PerangDunia ke-II banyak orang mengirimkan anaknya untuk belajar ke Hadramaut, sebuahdaerah di propinsi Yaman Bagian Selatan. Sayangnya setelah merdeka dariInggris, Yaman Selatan (masih belum bersatu dengan Yaman Utara) dikuasai olehkomunis. Selama 26 tahun pemerintahan komunis, hubungan antara Hadramaut denganIndonesiaseolah-olah terputus.  Pada abad ke-18 dan 19, misalnya, masyarakatNusantara lebih dapat membaca huruf Arab daripada latin. Maka, mata uang dimasa Belanda ditulis dengan huruf Arab Melayu, Arab Pegon atau Arab Jawi.Bahkan, pada masa itu, cerita-cerita roman termasuk tulisan pengarang Tionghoajuga ditulis dalam huruf Arab Melayu.


Sehubungan dengan hal di atas,wajarlah bila Indonesia-Arab merupakan golongan yang sedemikian unik, karenastatus atau kedudukan mereka akibat perpaduan antara Islam dan budaya Arab,serta sejarah mereka. Kalau Belanda menyebut pribumi sebagai inlander (bangsakuli) yang membuat Bung Karno marah besar, keturunan Arab memberikanpenghargaan dengan sebutan ahwal (saudara dari pihak ibu). Mengingat, sebagianbesar keturunan Arab yang datang ke Indonesia tanpa disertai istri.Mayoritas komunitas Arab lebih banyak berkumpul pada suatu daerah atau tempatseperti di Bogordi daerah Empang atau Pekojan di Jakarta.

Jika dilihat pada proses masuknyaIslam ke Indonesia,pada saat itu nuansa Budha / Hindu masih sangat kental sehingga banyakdipengaruhi oleh kebiasaan seperti 40 harian atau Syuroan atau suatu tradisiyang menyembah ala dinamisme / animisme. Tumbukan kebudayaan tersebutmemperlihatkan Islam tidak selalu identik dengan Arab tetapi proses adaptasiyang bergantung dengan budaya setempat yang menentukan corak kebudayaan yangberkembang di daerah tersebut. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar