Rabu, 29 Juni 2011

Mencari Kebenaran



Penalaran merupakan suatu prosespenemuan kebenaran di mana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteriakebenaran masing-masing.
a)     Definisi Penalaran
Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkanpengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Secara simbolikmanusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa, dan setelah itu manusiaharus hidup berbekal pengetahuannya itu. Dia mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, mana yang baik dan manayang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Secara terus menerus diaselalu hidup dalam pilihan.
Manusia adalah satu-satunya mahluk yangmengembangkan pengetahuan ini sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyaipengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya.  Manusia mengembangkan pengetahuannyamengatasi kebutuhan-kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dan memikirkan hal-halbaru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsunganhidupnya, namun lebih dari pada itu. Manusia mengembangkan kebudayaan; memberimakna bagi kehidupan; manusia ‘memanusiakan” diri dalam dalam hidupnya. Intinyaadalah manusia di dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggidari sekedar kelangsungan hidupnya. Inilah yang membuat manusia mengembangkanpengetahuannya dan pengetahuan ini mendorong manusia menjadi makhluk yangbersifat khas.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan oleh duahal utama;
·        Bahasa;manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalanpikiran yang melatar belakangi informasi tersebut.

·        Kemampuanberpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar caraberpikir seperti ini disebut penalaran.
Dua kelebihan inilah yang memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannyayakni bahasa yang bersifat komunikatif dan pikiran yang mampu menalar.
b)     Hakekat Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikirdalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia padahakikatnya merupakan mahluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak.Sikap dan tindakan yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan lewatkegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yangdikaitkan dengan kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan pengetahuanyang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan.
Berpikir merupakan suatu kegiatan untukmenemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalahtidak sama oleh sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkanpengetahuan yang benar itupun berbeda-beda dapat dikatakan bahwa tiap jalanpikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran, dan kriteriakebenaran ini merupakan landasan bagi proses kebenaran tersebut. Penalaranmerupakan suatu proses penemuan kebenaran di mana tiap-tiap jenis penalaranmempunyai kriteria kebenaran masing-masing.
Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyaiciri-ciri tertentu
·        Ciri yang pertama ialah adanyasuatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika, dan tiappenalaran mempunyai logika tersendiri atau dapat juga disimpulkan bahwakegiatan penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir logis, dimana berpikirlogis di sini harus diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut suatu polatertentu atau logika tertentu.
·        Ciriyang kedua dari penalaran adalah sifat analitik dari proses berpikirnya.Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada suatuanalisis dan kerangka berpikir yang digunakan untuk analisis tersebut adalahlogika penalaran yang bersangkutan. Artinya penalaran ilmiah merupakan kegiatananalisis yang mempergunakan logika ilmiah, dan demikian juga penalaran lainnyayang mempergunakan logikanya tersendiri. Sifat analitik ini merupakankonsekuensi dari suatu pola berpikir tertentu.
c)     Logika
Penalaran merupakan suatu proses berpikiryang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itumempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir ituharus dilakukan caratertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau prosespenarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara. Cara penarikankesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefenisikansebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih.” Terdapat bermacam-macamcara penarikan kesimpulan, namun untuk sesuai dengan dengan tujuan studi yangmemusatkan diri kepada penalaran maka hanya difokuskan kepada dua jenispenarikan kesimpulan, yakni logika induktif dan logika deduktif. Logikainduktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasusindividual nyata menjadi kesimpulan bersifat umum. Sedangkan logika deduktif,menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifatindividual (khusus).
d)     Induksi
Induksi merupakan cara berpikir di mana ditarik dari suataukesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individu.Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataanyang bersifat khas dan dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiridengan pernyataan yang bersifat umum. Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya karena mempunyai duakeuntungan.
a)     Bersifat ekonomis.
b)     Dimungkinkannya prosespenalaran selanjutnya.

e)     Deduksi
Penalaran deduktif adalah kegiatanberpikir yang sebalikny dari penalaran induktif. Deduksi adalah cara berpikirdimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifatkhusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikiryang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pertanyaan dan satukesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yangkemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulanmerupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan keduapremis tersebut. Jadi ketepatan penarikan kesimpulan tergantung pada tiga halyakni kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor, dan keabsahan penarikankesimpulan. Sekiranya salah satu dari ketiga unsur tersebut persyaratannyatidak dipenuhi maka kesimpulan yang akan ditariknya akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif.
f)      Mendapatkan Pengetahuan yang Benar
Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu, baik logika deduktif maupun logikainduktif, dalam proses penalarannya, mempergunakan premis-premis yangberupa pengetahuan yang dianggapnya benar. Kenyataan ini membawa kita kepadapertanyaan; bagaimana kita mendapatkan pengetahuan yang benar tersebut. Padadasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuanyang benar. Yang pertamaadalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepadapengalaman. Kaum rasionalis mendasarkandiri kepada rasio dan kaum empirisme mendasarkan diri kepada pengalaman.
Kaum rasionalis mempergunakan metodededuktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yangdipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang dianggapnya jelas dan dapatditerima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia. Prinsip itusendiri sudah ada jauh sebelum manusia memikirkannya. Paham ini dikenal dengannama idealisme. Fungsi pikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut yanglalu menjadi pengetahuannya. Prinsip itu sendiri sudah ada dan bersifat aprioridan dapat diketahui manusia lewat kemampuan berpikir rasionalnya. Pengalamantidaklah membuahkan prinsip justru sebaliknya, hanya dengan mengetahui prinsipyang didapat lewat penalaran rasionil itulah maka kita dapat mengertikejadian-kejadian yang berlaku dalam alam sekitar kita. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi kaumrasionalis adalah bersifat apriori dan pengalaman yang didapatkan manusia lewatpenalaran rasional.
Berlainan dengan kaum rasionalis maka kaumempiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewatpenalaran yang abstrak namun lewat penalaran yang konkret dan dapat dinyatakanlewat tangkapan panca indra.
Disamping rasionalisme dan empirisme masihterdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yangpenting untuk kita ketahui adalah intuisidan wahyu. Sampai sejauh ini,pengetahuan yang didapatkan secara rasional dan empiris, kedua-duanya merupakaninduk produk dari sebauh rangkaian penalaran.
Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpamelalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannyapada suatu masalah tiba-tiba mendapat jawaban atas permasalah tersebut. Tanpamelaui proses berliku-liku dia sudah mendapatkan jawabannya.. intuisi juga bisabekerja dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatupermasalahan ditemukan jawabannya tidak pada saat sesorang itu secara sadarsedang menggelutinya. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidakdapat diandalkan. Pengetahuan inuitif dapat digunakan sebagai hipotesa bagianalisis selanjutnya dalam menentukan benar atau tidaknya suatu penalaran.
Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan olehTuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutusnyasepanjang zaman. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupansekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah yang bersifattransedental kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan,kepercayaan kepada nabi sebagai suatu pengantara dan kepercayaan terhadap suatuwahyu sebagai cara penyampaian merupakan titik dasar dari penyusunanpengetahuan ini.. kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama. Suataupernyataan harus dipercaya dulu baru bisa diterima. Dan pernyataan ini bisasaja dikaji lewat metode lain. Secara rasional bisa dikaji umpamanya apakahpernyataan-pernyataan yang terkandung didalamnya konsisten atau tidak.di pihaklain secara empiris bisa dikumpulkan fakta-fakta yang mendukung pernyataantersebut.
Dalam memulai mencari kebenaran, pada tahap ini kita akan menghadapipertanyaan ”what” dan ”when” (apa dan kapan). Kemudian jalan pembuktiannya kitalakukan. Dalam pembuktian ini kita memasuki tahap ”why” dan ”how” (mengapa danbagaimana). Karena pencarian kebenaran sampai pada tahap ini maka dalam mencarikebenaran kita harus menggunakan alur rasio kita (thinking), dengan melibatkanseluruh panca indera kita (feeling), disertai dengan mengerahkan kemampuanuntuk merasakan sesuatu (sensing) sampai batas menemukan suatu kebenaran danpembenaran yang hakiki (believing). Dan pada akhirnya akhir ataupun ujung dariproses pencarian/menemukan suatu kebenaran ini sangat bersifat relatifbergantung masing-masing individu sesuai dengan kapasitas ilmu pengetahuan yangdimilikinya, karena setiap orang memiliki persepsi yang sangat berbeda tentangkebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar