1. Sejarah Singkat Filsafat
Sejarahfilsafat dapat diperiodisasi ke dalam empat periode (Sudarto. 1996) yang dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004) yaitu :
a. Tahap/masaYunani kuno (Abad ke-6 S.M sampai akhir abad ke-3 S.M)
b. Tahap/masa Abad Pertengahan (akhirabad ke-3 S.M sampai awal abad ke-15 Masehi)
c. Tahap/masa Modern (akhir abad ke-15M sampai abad ke-19 Masehi)
d. Tahap/masadewasa ini/filsafat kontemporer (abad ke-20 Masehi)
Sementara ituK. Bertens dalam bukunya Ringkasan Sejarah Filsafat (1976) yang dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004) menyusun topik-topik pembahasannya sebagi berikut :
a. Masa PurbaYunani
b. Masa Patristikdan Abad pertengahan
c. Masa Modern
Pembagianperiodisasi yang nampaknya lebih rinci, dikemukakan oleh Susane K. Langer(Donny Gahral Adian, 2002) yang membagi sejarah filsafat ke dalam enam tahapanyaitu :
a. Yunani Kuno (+600 SM)
b. Filsuf-filsufManusia Yunani
c. AbadPertengahan (300 SM –1300M)
d. FilsafatModern (17-19 M)
e. Positivisme(Abad 20 M)
f. Alam Simbolis
Masa Yunani Kuno. Pada tahap awal kelahirannya filsafat menampakkan diri sebagi suatu bentuk mitologi, serta dongeng-dongengyang dipercayai oleh Bangsa Yunani, baru sesudah Thales (624-548 S.M)mengemukakan pertanyaan aneh pada waktu itu, filsafat berubah menjadi suatubentuk pemikiran rasional (logos). Pertanyaan Thales yang menggambarkan rasakeingintahuan bukanlah pertanyaan biasa seperti apa rasa kopi ?, atau padatahun keberapa tanaman kopi berbuah ?, pertanyaan Thales yang merupakanpertanyaan filsafat, karena mempunyai bobot yang dalam sesuatu yang ultimate(bermakna dalam) yang mempertanyakan tentang Apa sebenarnya bahan alam semestaini (What is the nature of the world stuff ?), atas pertanyaan ini indra tidakbisa menjawabnya, sains juga terdiam, namun Filsuf berusaha menjawabnya. Thalesmenjawab Air (Water is the basic principle of the universe), dalam pandanganThales air merupakan prinsip dasar alam semesta, karena air dapat berubahmenjadi berbagai wujud
Kemudian silihberganti Filsuf memberikan jawaban terhadap bahan dasar (Arche) dari semestaraya ini dengan argumentasinya masing-masing. Anaximandros (610-540 S.M)mengatakan Arche is to Apeiron, Apeiron adalah sesuatu yang paling awal danabadi, Pythagoras (580-500 S.M) menyatakan bahwa hakekat alam semesta adalahbilangan, Demokritos (460-370 S.M) berpendapat hakekat alam semesta adalahAtom, Anaximenes (585-528 S.M) menyatakan udara, dan Herakleitos (544-484 S.M)menjawab asal hakekat alam semesta adalah api, dia berpendapat bahwa di duniaini tak ada yang tetap, semuanya mengalir. Variasi jawaban yang dikemukakanpara filsuf menandai dinamika pemikiran yang mencoba mendobrak dominasimitologi, mereka mulai secara intens memikirkan tentang Alam/Dunia, sehinggasering dijuluki sebagai Philosopher atau akhli tentang Filsafat Alam (NaturalPhilosopher), yang dalam perkembangan selanjutnya melahirkan Ilmu-ilmukealaman.
Padaperkembangan selanjutnya, disamping pemikiran tentang Alam, para akhli fikirYunani pun banyak yang berupayamemikirkan tentang hidup kita (manusia) di Dunia. Dari titik tolak ini lahirlah Filsafat moral (atau filsafat sosial) yang pada tahapan berikutnya mendoronglahirnya Ilmu-ilmu sosial. Diantara filsuf terkenal yang banyak mencurahkanperhatiannya pada kehidupan manusia adalah Socrates (470-399 S.M), dia sangat menentang ajaran kaum Sofis
Yang cenderung mempermainkan kebenaran,Socrates berusaha meyakinkan bahwakebenaran dan kebaikan sebagai nilai-nilai yang objektif yang harus diterimadan dijunjung tinggi oleh semua orang. Dia mengajukan pertanyaan pada siapasaja yang ditemui dijalan untuk membukakan batin warga Athena kepada kebenaran(yang benar) dan kebaikan (yang baik). Dari prilakunya ini pemerintah Athena menganggap Socrates sebagai penghasut,dan akhirnya dia dihukum mati dengan jalan meminum racun.
SesudahSocrates meninggal, filsafat Yunani terus berkembang dengan Tokohnya Plato(427-347 S.M), salah seorang murid Socrates. Diantara pemikiran Plato yangpenting adalah berkaitan denganpembagian relaitas ke dalam dua bagian yaitu realitas/dunia yang hanya terbukabagi rasio, dan dunia yang terbuka bagi pancaindra, dunia pertama terdiri dariidea-idea, dan dunia ke dua adalah dunia jasmani (pancaindra), dunia idesifatnya sempurna dan tetap, sedangkan dunia jasmani selalu berubah. Denganpendapatnya tersebut, menurut Kees Berten (1976), Plato berhasil mendamaikanpendapatnya Herakleitos dengan pendapatnya Permenides, menurut Herakleitossegala sesuatu selalu berubah, ini benar kata Plato, tapi hanya bagi duniaJasmani (Pancaindra), sementara menurut Permenides segala sesuatu sama sekalisempurna dan tidak dapat berubah, ini juga benar kata Plato, tapi hanya berlakupada dunia idea saja.
Dalam sejarahFilsafat Yunani, terdapat seorang filsuf yang sangat legendaris yaituAristoteles (384-322 S.M), seorang yang pernah belajar di Akademia Plato diAthena. Setelah Plato meninggal Aristoteles menjadi guru pribadinya AlexanderAgung selama dua tahun, sesudah itu dia kembali lagi ke Athena dan mendirikanLykeion, dia sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Plato meskipun dalamfilsafat, Aristoteles mengambil jalan yang berbeda (Aristoteles pernahmengatakan-ada juga yang berpendapat bahwa ini bukan ucapan Aristoteles- AmicusPlato, magis amica veritas – Plato memang sahabatku, tapi kebenaran lebih akrab bagiku – ungkapan initerkadang diterjemahkan bebas menjadi “Saya mencintai Plato, tapi saya lebihmencintai kebenaran”)
Aristotelesmengkritik tajam pendapat Plato tentang idea-idea, menurut Dia yang umum dantetap bukanlah dalam dunia idea akan tetapi dalam benda-benda jasmani itusendiri, untuk itu Aristoteles mengemukakan teori Hilemorfisme (Hyle = Materi,Morphe = bentuk), menurut teori ini, setiap benda jasmani memiliki dua hal yaitu bentuk dan materi, sebagai contoh, sebuah patung pasti memilikidua hal yaitu materi atau bahan baku patung misalnya kayu atau batu, dan bentukmisalnya bentuk kuda atau bentuk manusia, keduanya tidak mungkin lepas satusama lain, contoh tersebut hanyalah untuk memudahkan pemahaman, sebab dalampandangan Aristoteles materi dan bentuk itu merupakan prinsip-prinsip metafisikauntuk memperkukuh dimungkinkannya Ilmu pengetahuan atas dasar bentuk dalamsetiap benda konkrit. Teori hilemorfisme juga menjadi dasar bagi pandangannyatentang manusia, manusia terdiri dari materi dan bentuk, bentuk adalah jiwa,dan karena bentuk tidak pernah lepas dari materi, maka konsekwensinya adalahbahwa apabila manusia mati, jiwanya (bentuk) juga akan hancur.
Disampingpendapat tersebut Aristoteles juga dikenal sebagai Bapak Logika yaitu suatucara berpikir yang teratur menurut urutan yang tepat atau berdasarkan hubungansebab akibat. Dia adalah yang pertama kali membentangkan cara berpikirteratur dalam suatu sistem, yangintisarinya adalah Sylogisme (masalah ini akan diuraikan khusus dalam topikLogika) yaitu menarik kesimpulan darikenyataan umum atas hal yang khusus (Mohammad Hatta, 1964).
Abad Pertengahan. Semenjak meninggalnya Aristoteles, filsafat terus berkembang dan mendapatkedudukan yang tetap penting dalam kehidupan pemikiran manusia meskipun dengancorak dan titik tekan yang berbeda. Periode sejak meninggalnya Aristoteles(atau sesudah meninggalnya Alexander Agung (323 S.M) sampai menjelang lahirnyaAgama Kristen oleh Droysen (Ahmad Tafsir. 1992) disebut periode Hellenistik(Hellenisme adalah istilah yang menunjukan kebudayaan gabungan antara budayaYunani dan Asia Kecil, Siria, Mesopotamia, dan Mesir Kuno). Dalam masa iniFilsafat ditandai antara lain dengan perhatian pada hal yang lebih aplikatif,serta kurang memperhatikan Metafisika, dengan semangat yang Eklektik(mensintesiskan pendapat yang berlawanan) dan bercorak Mistik.
Di dunia Islam(Umat Islam) lahir filsuf-filsuf terkenal seperti Al Kindi (801-865 M), Al Farabi (870-950 M), Ibnu Sina (980-1037M), Al Ghazali (1058-1111 M), dan Ibnu Rusyd (1126-1198), sementara itu didunia Kristen lahir Filsuf-filsuf antara lain seperti Peter Abelardus (1079-1180), Albertus Magnus(1203-1280 M), dan Thomas Aquinas (1225-1274). Mereka ini disamping sebagaiFilsuf juga orang-orang yang mendalami ajaran agamanya masing-masing, sehinggacorak pemikirannya mengacu pada upaya mempertahankan keyakinan agama denganjalan filosofis, meskipun dalam banyak hal terkadang ajaran Agama dijadikanHakim untuk memfonis benar tidaknya suatu hasil pemikiran Filsafat (PemikiranRasional).
MasaModern. Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuantidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa,tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan adabeda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalahrasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya,meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yanginderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapatberbeda itu.
Aliran rasionalisme dipelopori oleh ReneDescartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 iamenegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semuapengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatukebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.
Tetapi dalam rangka kesangsian yangmetodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu"saya ragu-ragu". Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa"aku ragu-ragu". Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwaaku menyangsikan adanya. Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakanadanya aku. Itulah "cogito ergo sum", aku berpikir (= menyadari) makaaku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. -- Mengapa kebenaranitu pasti? Sebabaku mengerti itu dengan "jelas, dan terpilah-pilah" -- "clearlyand distinctly", "clara et distincta". Artinya, yang jelas danterpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi normaDescartes dalam menentukan kebenaran.
Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yangsudah ada sejak kita lahir, yaitu (1) realitas pikiran (res cogitan), (2)realitas perluasan (res extensa, "extention") atau materi, dan (3)Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari keduarealitas itu). Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dantak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalahkeluasan, mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran.Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpatergantung pada apapun juga. Descartes adalah seorang dualis, menerapkanpembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang meluas. Manusiamemiliki keduanya, sedang binatang hanya memiliki realitas keluasan: manusiamemiliki badan sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran sebagaimana malaikat.Binatang adalah mesin otomat, bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesinotomat yang sempurna, karena dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesinotomat jaman sekarang adalah komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasanbuatan).
Descartes adalah pelopor kaumrasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalampikiran.
Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilihpengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifatlahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkutpribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentukpengenalan yang paling jelas dan sempurna. Dua hal dicermati oleh Hume, yaitusubstansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialamihanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Darikesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasanadalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. Misal kualami kesan: putih, licin,ringan, tipis. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa adasubstansi tetap yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi.Bahwa di dunia ada realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itumengapa muncul gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lainhanyalah "a bundle or collection of perceptions (= kesadarantertentu)".
Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilihpengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifatlahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkutpribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentukpengenalan yang paling jelas dan sempurna. Dua hal dicermati oleh Hume, yaitusubstansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialamihanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Darikesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasanadalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. Misal kualami kesan: putih, licin,ringan, tipis. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa adasubstansi tetap yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi.Bahwa di dunia ada realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itumengapa muncul gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lainhanyalah "a bundle or collection of perceptions (= kesadarantertentu)".
Kausalitas. Jika gejala tertentudiikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang disinari matahari menjadi panas,kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman. Pengalaman hanya memberi kita urutangejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Yangdisebut kepastian hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak bolehdimengerti lebih dari "probable" (berpeluang). Maka Hume menolakkausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat padahal-hal itu sendiri, namun hanya dalam gagasan kita. Hukum alam adalah hukumalam. Jika kita bicara tentang "hukum alam" atau"sebab-akibat", sebenarnya kita membicarakan apa yang kita harapkan,yang merupakan gagasan kita saja, yang lebih didikte oleh kebiasaan atauperasaan kita saja. Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwaseluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume adabatasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melaluipersepsi indera kita. Dengan kritisisme Imanuel Kant (1724-1804) mencobamengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kantberpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh.Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namundalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandangdunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikutmenentukan konsepsi manusia tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kitatidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia "itu sendiri"("das Ding an sich"), namun hanya dunia itu seperti tampak"bagiku", atau "bagi semua orang". Namun, menurut Kant, adadua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yangpertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kitaketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalahcara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yangkedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yangtunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan.
Demikian Kant membuat kritik atasseluruh pemikiran filsafat, membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagianeka aliran filsafat masa kini. Filsafat zaman modern berfokus pada manusia,bukan kosmos (seperti pada zaman kuno), atau Tuhan (pada abad pertengahan).Dalam zaman modern ada periode yang disebut Renaissance ("kelahirankembali"). Kebudayaan klasik warisan Yunani-Romawi dicermati dandihidupkan kembali; seni dan filsafat mencari inspirasi dari sana. Filsuf penting adalah NMacchiavelli (1469-1527), Thoman Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) danFrancis Bacon (1561-1626). Periode kedua adalah zaman Barok, yangmenekankan akal budi. Sistem filsafatnya juga menggunakan menggunakanmatematika. Para filsuf periode ini adalah Rene Descrates, Barukh de Spinoza(1632-1677) dan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1710). Periode ketiga ditandaidengan fajar budi ("enlightenment" atau "Aufklarung"). Parafilsuf katagori ini adalah John Locke (1632-1704), G Berkeley (1684-1753),David Hume (1711-1776). Dalam katagori ini juga dimasukkan Jean-JacquesRousseau (1712-1778) dan Immanuel Kant. Masa kini (1800-sekarang).
Filsafat masa kini merupakan anekabentuk reaksi langsung atau taklangsung atas pemikiran Georg Wilhelm FriedrichHegel (1770-1831). Hegel ingin menerangkan alam semesta dan gerak-geriknyaberdasarkan suatu prinsip. Menurut Hegel semua yang ada dan semua kejadianmerupakan pelaksanaan-yang-sedang-berjalan dari Yang Mutlak dan bersifatrohani. Namun celakanya, Yang Mutlak itu tidak mutlak jika masih harusdilaksanakan, sebab jika betul-betul mutlak, tentunya maha sempurna, dan jikamaha sempurna tidak menjadi. Oleh sebab itu pemikiran Hegel langsung ditentangoleh aliran pemikiran materialisme yang mengajarkan bahwa yang sedang-menjadiitu, yang sering sedang-menjadi-lebih-sempurna bukanlah ide ("YangMutlak"), namun adalah materi belaka. Maksudnya, yang sesungguhnya adaadalah materi (alam benda); materi adalah titik pangkal segala sesuatu dansegala sesuatu yang mengatasi alam benda harus dikesampingkan. Maka seluruhrealitas hanya dapat dibuat jelas dalam alur pemikiran ini. Itulah faham yangdicetuskan oleh Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872). Sayangnya, materi itusendiri tidak bisa menjadi mutlak, karena pastilah ada yang-ada-di-luar-materiyang "mengendalikan" proses dalam materi itu untuk materi bisa menjadi-lebih-sempurna-dari-sebelumnya.
Kesalahan Hegel adalah tidak menerimabahwa Yang Mutlak itu berdiri sendiri dan ada-diatas-segalanya, dalam artitidak dalam satu realitas dengan segala yang sedang-menjadi tersebut. Denganmengatakan Yang Mutak itu menjadi, Hegel pada dasarnya meniadakan kemutlakan.Dalam cara sama, dengan mengatakan bahwa yang mutlak itu materi, makamaterialisme pun jatuh dalam kubangan yang sama.
Dari sini dapat difahami munculnyasejumlah aliran-aliran penting dewasa ini: Positivisme menyatakan bahwapemikiran tiap manusia, tiap ilmu dan suku bangsa melalui 3 tahap, yaituteologis, metafisis dan positif ilmiah. Manusia muda atau suku-suku primitifpada tahap teologis" dibutuhkan figur dewa-dewa untuk"menerangkan" kenyataan. Meningkat remaja dan mulai dewasa dipakaiprinsip-prinsip abstrak dan metafisis. Pada tahap dewasa dan matang digunakanmetode-metode positif dan ilmiah. Aliran positivisme dianut oleh August Comte(1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873) dan H Spencer (1820-1903), dan dikembangkanmenjadi neo-positivisme oleh kelompok filsuf lingkaran Wina.
Marxisme (diberi nama mengikuti tokohutama Karl Marx, 1818-1883) mengajarkan bahwa kenyataan hanya terdiri atasmateri belaka, yang berkembang dalam proses dialektis (dalam ritme tesis-antitesis-sintesis).Marx adalah pengikut setia Feuerbach (sekurangnya pada tahap awal). Feuerbachberpendapat Tuhan hanyalah proyeksi mausia tentang dirinya sendiri dan agamahanyalah sarana manusia memproyeksikan cita-cita (belum terwujud!) manusia tentangdirinya sendiri. Menurut Feuerbach, yang ada bukan Tuhan yang mahaadil, namunyang ada hanyalah manusia yang ingin menjadi adil. Dari sini dapat difahamimengapa Marx berkata, bahwa "agama adalah candu bagi rakyat", karenaagama hanya membawa manusia masuk dalam "surga fantasi", suatupelarian dari kenyataan hidup yang umumnya pahit. Selanjutnya Marx menegaskanbahwa filsafat hanya memberi interpretasi atas perkembangan masyarakat dansejarah. Yang justru dibutuhkan adalah aksi untuk mengarahkan perubahan danuntuk itu harus dikembangkan hukum-hukum obyektif mengenai perkembanganmasyarakat.
[Catatan. Soekarno mengklim telahmencetuskan marhaenisme sebagai marxisme diterapkan dalam situasi dan kondisiIndonesia. Kualifikasi "penerapan dalam situasi dan kondisiIndonesia" (apapun itu) pastilah tidak membuat faham marhaenisme sebagaisuatu aliran filsafat dan pastilah tidak harus sama dengan faham marxismesebagai diterapkan di dalam lingkungan masyarakat lain.]
[Catatan. Soekarno mengklim telahmencetuskan marhaenisme sebagai marxisme diterapkan dalam situasi dan kondisiIndonesia. Kualifikasi "penerapan dalam situasi dan kondisiIndonesia" (apapun itu) pastilah tidak membuat faham marhaenisme sebagaisuatu aliran filsafat dan pastilah tidak harus sama dengan faham marxismesebagai diterapkan di dalam lingkungan masyarakat lain.]
Ditangan Friedrich Engels (1820-1895),dan lebih-lebih oleh Lenin, Stalin dan Mao Tse Tung, aliran filsafat Marxismeini menjadi gerakan komunisme, yaitu suatu ideologi politik praktis PartaiKomunis di negara mana saja untuk merubah dunia. Sangat nyata bahwa dimana sajaPartai Komunis itu menjalankan praktek-praktek yang nyatanya mengingkarihak-hak azasi manusia, dan karena itu tidak berperikemanusiaan (dan tak berkeTuhanan pula!).
Eksistensialime merupakan himpunan anekapemikiran yang memiliki inti sama, yaitu keyakinan, bahwa filsafat harus berpangkalpada adanya (eksistensi) manusia konkrit, dan bukan pada hakekat (esensi)manusia-pada-umumnya. Manusia-pada-umumnya tidak ada, yangada hanya manusia ini, manusia itu. Esensi manusia ditentukan oleheksistensinya. Tokoh aliran ini J P Sartre (1905-1980), Kierkegaard(1813-1855), Friederich Nietzche (1844-1900), Karl Jaspers (1883-1969), MartinHeidegger (1889-1976), Gabriel Marcel (1889-1973).
Fenomenologi merupakan aliran (tokohpenting: Edmund Husserl, 1859-1938) yang ingin mendekati realitas tidak melaluiargumen-argumen, konsep-konsep, atau teori umum. "Zuruck zu den sachenselbst" -- kembali kepada benda-benda itu sendiri, merupakan inti daripendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya.Setiap obyek memiliki hakekat, dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kitamembuka diri kepada gejala-gejala yang kita terima. Kalau kita "mengambiljarak" dari obyek itu, melepaskan obyek itu dari pengaruhpandangan-pandangan lain, dan gejala-gejala itu kita cermati, maka obyek itu"berbicara" sendiri mengenai hakekatnya, dan kita memahaminya berkatintuisi dalam diri kita.
Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistemologi, psikologi, antropologi, danstudi-studi keagamaan (misalnya kajian atas kitab suci).
Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistemologi, psikologi, antropologi, danstudi-studi keagamaan (misalnya kajian atas kitab suci).
Pragmatisme tidak menanyakan"apakah itu?", melainkan "apakah gunanya itu?" atau"untuk apakah itu?". Yang dipersoalkan bukan "benar atausalah", karena ide menjadi benar oleh tindakan tertentu. Tokoh aliran ini:John Dewey (1859-1914).
Neo-kantisme dan neo-thomisme merupakan aliran-aliran yang merupakan kelahirankembali dari aliran yang lama, oleh dialog dengan aliran lain.
Neo-kantisme dan neo-thomisme merupakan aliran-aliran yang merupakan kelahirankembali dari aliran yang lama, oleh dialog dengan aliran lain.
Disamping itu masih ada aliran filsafatanalitik yang menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan analisis ataskonsep-konsep. Dalam berfilsafat, jangan katakan jika hal itu tidak dapatdikatakan. "Batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku".Soal-soal falsafi seyogyanya dipecahkan melalui analisis atas bahasa, untukmendapatkan atau tidak mendapatkan makna dibalik bahasa yang digunakan. Hanyadalam ilmu pengetahuan alam pernyataan memiliki makna, karena pernyataan itubersifat faktual. Tokoh pencetus: Ludwig Wittgenstein (1889-1952).
Akhirnya sejak 1960 berkembangstrukturalisme yang menyelidiki pola-pola dasar yang tetap yang terdapat dalambahasa-bahasa, agama-agama, sistem-sistem dan karya-karya kesusasteraan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar