Imam Suyuthi meriwayatkan, setelah Ali bin AbiThalib r.a wafat, penduduk Kufah membai’at al-Hasan sebagai khalifah untukmenggantikan bapanya. Al-Hasan tinggaldi Kufah selama enam bulan sebelum Mu’awiyah datang menemuinya. Al-Hasan kemudiannya mengirim utusan kepadaMu’awiyah dan sanggup menyerahkan pemerintahan kepadanya dengan tiga syarat,iaitu : sepeninggal Mu’awiyah, pemerintahan harus dikembalikan kepada kaumMuslimin; Mu’awiyah tidak boleh menuntut apa pun daripada penduduk Madinah,Hijaz dan Iraq atas apa yang berlaku pada masa pemerintahan bapanya; dan dia mesti membayar segalahutang-hutangnya. Mu’awiyah bersetujudengan syarat itu dan kedua-duanya lalu melakukan perdamaian.1
Al-Hasanmengundurkan diri dari pemerintahan pada bulan Rabiul Awal tahun 41 H. Tentang kesanggupannya meletakkan jawatansebagai khalifah ini, al-Hakim meriwayatkan dari Jubair bin Nufair bahawaal-Hasan r.a berkata, “Sesungguhnyaseluruh orang Arab telah berada dalam genggamanku, mereka akan memerangisesiapa pun yang aku perangi, dan akan berdamai dengan orang yang berdamaidenganku. Namun, aku biarkan merekamencari keredaan Allah dan mencegah terjadinya pertumpahan darah sesama umatMuhammad.”2
MenurutDr. Yusuf al-Qardhawi, kenyataan al-Hasan itu menunjukkan dua perkara. Pertama, menunjukkan kebesaran ijtihadpolitik dan juga kebesaran jiwa al-Hasan yang lebih mengutamakan kepentinganmenjaga perpaduan kaum Muslimin daripada mempertahankan kedudukannya, walaupundia memang berhak berbuat begitu. Kedua, menunjukkan secara halus pandangan al-Hasan r.a bahawa Mu’awiyahmempunyai kebaikan dan kemampuan memimpin kaum Muslimin. Menurut Dr. Yusuf al-Qardhawi, kalauMu’awiyah tidak mempunyai kebaikan dan kemampuan memimpin kaum Muslimin,al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a tidak akan turun dari pemerintahannyadengan keredaan.3 Sebagaimanaungkapan al-Hasan sendiri yang mengatakan beliau mengundur dengan reda, padahalpenyokongnya sudah bersedia untuk membelanya dengan darah. Namun, al-Hasan berpendapat darah kaumMuslimin hanya dapat dijaga kalau dia turun dari pemerintahannya dan melakukanperdamaian.4
Tahunturunnya al-Hasan r.a dari jawatan khalifah dipanggil ‘Tahun Perpaduan’ ataupun‘Tahun Perdamaian’ (‘amul jama’ah). Peristiwa ini sesuai dengan apa yang pernahdiisyaratkan oleh Rasulullah SAW tentang al-Hasan r.a, “Anakku ini adalah pemimpin melalui dirinya, kelak Allah akanmenyatukan dua kelompok besar kaum Muslimin.” (HR Bukhari).5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar