Selain berbeda dengan seluruh sistem buatanmanusia yang ada -yaitu lebih dalam dari segi kebebasan individu pemanfaatansosial -sesungguhnya Islam juga berbeda dengan sistem-sistem itu di dalam ruhdan asasnya, dalam tujuan dan orientasinya dan di dalam kepentingan danfungsinya.
Sesungguhnya dasar-dasar dari sistem Islam bukanlah buatan manusia, bukan pulaciptaan sekelompok dari manusia, tetapi ia merupakan ketentuan Allah yang MahaMengetahui, yang menginginkan bagi hamba-Nya kemudahan dan bukan kesulitan.
Sesungguhnya Allah adalah Rabb bagi segala makhluq. Dia-lah yang mengatursegala sesuatu tanpa penyimpangan dan tanpa pemihakan. Dia adalah Rabbnyaaghniya' dan fuqara', Rabbnya para buruh dan para pemilik profesi, Rabbnya parapemilik dan Rabbnya para penyewa, mereka semua adalah hamba dan keluarga-Nya.Dia mengasihi mereka jauh lebih besar daripada kasih seorang ibu terhadapanaknya. Maka apabila Allah membuat suatu sistem hidup untuk mereka, niscayatidak ada yang lebih adil, lebih sempurna dan lebih ideal dari rancangan Allah.Berbeda dengan sistem-sistem lainnya, yang semuanya adalah buatan manusia yangpenuh dengan kekurangan dan dikuasai oleh hawa nafsu.
Sesungguhnya sistem-sistem itu bersifat materimurni yang menjadikan ekonomi sebagai orientasi hidupnya, menjadikan hartasebagai sesembahannya dan dunia seluruhnya menjadi pusat perhatiannya (tumpuanharapannya). Sesungguhnya kemewahan materi itulah tujuan akhir dan menjadiFirdaus yang diinginkan.
Adapun Islam, dia telah menjadikan ekonomi sebagai sarana untuk mencapai tujuanbesar, yaitu hendaknya manusia tidak disibukkan dengan kesusahan hidup danperang roti yang melalaikan dari ma'rifah kepada Allah dan hubungan baikdengan-Nya serta kehidupan lain yang lebih baik dan abadi. Karena sesungguhnyamanusia itu apabila terpenuhi kebutuhannya dan keamanannya maka mereka merasatenteram dan berkonsentrasi untuk beribadah kepada Allah dengan khusyu'. Allahberfirman, "Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkanlapar dan mengamankan mereka dan ketakutan." (Quraisy 4). Sehingga merekamerasa terikat dengan ikatan persaudaraan yang kuat antara satu dengan yanglainnya dari hamba-hamba Allah. Inilah tujuan ekonomi dalam Islam.
Adapun Islam, dia telah menjadikan ekonomi sebagai sarana untuk mencapai tujuanbesar, yaitu hendaknya manusia tidak disibukkan dengan kesusahan hidup danperang roti yang melalaikan dari ma'rifah kepada Allah dan hubungan baikdengan-Nya serta kehidupan lain yang lebih baik dan abadi. Karena sesungguhnyamanusia itu apabila terpenuhi kebutuhannya dan keamanannya maka mereka merasatenteram dan berkonsentrasi untuk beribadah kepada Allah dengan khusyu'. Allahberfirman, "Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkanlapar dan mengamankan mereka dan ketakutan." (Quraisy 4). Sehingga merekamerasa terikat dengan ikatan persaudaraan yang kuat antara satu dengan yanglainnya dari hamba-hamba Allah. Inilah tujuan ekonomi dalam Islam.
Sesungguhnya ekonomi dalam sistem-sistem Materialis yang ada itu terpisah dariakhlaq dan nilai-nilai kemuliaan, karena penekanan utamanya adalah meningkatkanproduktivitas, dan penumpukan kekayaan pribadi atau kelompok dengan cara apapun.
Dalam pandangan Islam, ekonomi adalah khadim (penopang atau sarana pendukung)bagi nilai-nilai dasar seperti aqidah Islamiyah, ibadah dan Akhlaqul Karimah.Maka apabila ada pertentangan antara tujuan ekonomi bagi individu ataumasyarakat dengan nilai-nilai dasar itu maka Islam tidak mau peduli dengantujuan-tujuan tersebut dan sanggup mengorbankan tujuan-tujuan itu dengankerelaan hati. Hal itu dalamrangka memelihara prinsip-prinsip, tujuan dan keutamaan manusia itu sendiri.
Dari sinilah Islam mengharamkan haji bagi kaum musyrikin dan mengharamkanthawaf mereka di Baitullah, betapa pun syi'ar agama ini membawa suatukeuntungan materi bagi penduduk Makkah dan sekitarnya, tetapi Al Qur'anmenganggap semua itu kecil dan menjanjikan kepada mereka bahwa Allah akanmengganti untuk mereka yang lebih baik dari itu. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yangmusyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahunini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikankekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya AllahMaha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (At Taubah: 28)
Apabila kita membuka klub-klub untuk judi atau dansa, dan penjualan minumankeras. Memang hal itu dapatmenghasilkan manfaat ekonomi, seperti mendorong para turis untuk datang danmendapatkan mata uang asing dan sebagainya. Akan tetapi manfaat seperti itutidak ada nilainya dalam pandangan Islam, karena dia bertentangan dengan prinsip-prinsipnyadalam memelihara kesehatan akal, fisik, akhlaq, aqidah dan hubungan sosial.Karena itulah Al Qur'an mengharamkan minuman keras dan judi, karena padakeduanya terdapat madharat yang besar. Adapun manfaat keduanya dari segiekonomi sama sekali tidak perlu diperhitungkan. Allah SWT berfirman:
"Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi.Katakanlah, "Pada keduarya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaatbagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya." (AlBaqarah: 219)
Dengan demikian maka jelaslah bagi kita bahwa sistem Islam itu benar-benarterpadu dengan rapi.
Sesungguhnya Islam berbeda dengan paham Materialis yang berlebihan dalammengumbar hawa nafsu manusia dan memberinya hak yang tak terbatas sehingga membengkakdan melampaui batas. Islam juga berbeda dengan Sosialisme yang berlebihan dalammenekan seseorang dan membebaninya dengan kewajiban-kewajiban yang beratsehingga tertekan dan merasa terus-menerus dalam kesulitan.
Sesungguhnya paham pertama di atas memihak perorangan dan mengesampingkanpertimbangan kemaslahatan bersama. Sedang yang kedua memihak masyarakat denganmenzhalimi hak-hak serta kebebasan individu. Kedua sistem tersebut berlebihandalam memberikan nilai dunia lebih di atas perhitungan akhirat, dan memberikankebutuhan jasmani lebih atas kebutuhan ruhani. Maka hanya Islamlah satu-satunyaaturan yang bersih dari ekstrimitas yang dilakukan oleh kedua sistem tersebutdan penyimpangan keduanya ke arah ifrath (berlebihan) atau tafrith (mengurangi).
Islamlah aturan yang adil dan seimbang, yang membuat perimbangan antara hak-hakdan kewajiban, antara individu dan masyarakat, antara ruhani dan jasmani, danantara dunia dan akhirat, tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi. Sebagaimanadijelaskan oleh firman Allah SWT:
"Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dantegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neracaitu." (Ar-Rahman: 8-9)
Tidaklah demikian itu kecuali karena Islam merupakan syari'at Allah yang tidakmenyimpang dan hukum-Nya yang tidak menzhalimi. Allah SWT berfirman:
"Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allahbagi orang-orang yang yakin." (Al Maidah: 50)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar