Senin, 20 Juni 2011

Manajemen Moneter Menurut Islam



Manajemen moneter menurut Islam adalah manajemen yang efesien dan adil,tetapi  tidak berdasarkan mekanisme sukubunga, melainkan dengan menggunakan strategi yang berdasarkan tiga instrumenutama.
Instrumenyang pertama adalah value judgments yang dapat menciptakan suasana yangmemungkinkan alokasi dan distribusi resources yang sesuasi dengan ajaran Islam. Padadasarnya resources merupakan amanah dari Allah yangpemanfaatannya harus efesien dan adil. Berdasarkan nilai-nilai Islam, money demand harus dimanfaatkan untukmemenuhi kebutuhan dasar dan investasi yang produktif, sama sekali bukan untuk conspicuous consumption,pengeluaran-pengeluarannon produktifdan spekulatif.[1]
Instrumenn yang kedua adalahkelembagaan yang berkaitan dengan kegiatan sosial, ekonomi dan politik, yangsalah satunya adalah mekanisme harga yang dapat meningkatkan efesiensi dalampemanfaatan resources. Walaupun mekanisme harga tidak menjamin pencapaiantujuan-tujuan ekonomi suatu negara, namun disadari sepenuhnya bahwa mekanismeharga yang disertai dengan nilai-nilai sistem yang ada dapat memudahkanpencapaian tujuan.

Selanjutnyainstrumen yang ketiga adalah financialintermediation yang berdasarkan sistem profit-and-losssharing. Dalam sisitem ini moneydemand dialokasikan dengan syarat hanya untuk proyek-proyek yang bermanfaatdan hanya kepada debitur yang mampu mengelola proyek secara efisien. Denganpersyaratan seperti itu, diharapkan dapat meminimisasi money demand untuk pemnafaatan yang tidak nerguna, non-produktifdan spekulatif. Selain daripada itu, persyaratan tersebut dapat menciptakanmasyarakat yang memiliki entrepreneurshipsekalipun diantara golongan miskin, sedangkan golongan kaya dapat berkontribusisehingga para entrepreneur tersebutdapat menghasilkan output, perluasan kesempatan kerja dan pemenuhan kebutuhandasar.
Persyaratanpemanfaatan money demand yangsedemikian rupa juga berlaku bagi sektor pemerintah, sehingga kreditor akanmempertimbangkan kelayakan proyek dan kemampuan pemerintah mengelola proyektersebut. Dengan persyaratan tersebut, pemerintah tidak akan dapat memperolehpemiayaan yang berlebihan yang digunakan untuk proyek-proyek publik yang tidakmenguntungkan.Aplikasi dari persyaratan tersebut, cenderung dapat menciptakankesulitan-kesulitan jangka pendek, namun untuk jangka panjang dapat mengurangiketidak seimbangan anggaran maupun makro-ekonomi, serta dapat menciptakankondisi perekonomian yang lebih baik.
Olehkarena konsumsi untuk kebutuhan pokok dan investasi yang lebih stabildibandingkan konsumsi yang tidak bermanfaat dan investasi yang spekulatif, makapemanfaatan money demand untuk hal-hal yang disebutkanterdahulu akan lebih stabil dalam perekonomian Islam. Selain daripada itu profit- sharing ratio antara pemakai dan penyediadana tidak akan berflukturasi sepert suku bunga, karena hal tersebut ditentukanberdasarkan prinsip keadilan dan sekali ratio tersebut ditetapkan tidak akanberubah selama periode pembiayaan. Dengan demikian bisnis akan berjalanberdasdarkan faktor-faktor yang tidak banyak mengalami perubahan sehungga ekspektasi profit juga tidakm akanberfluktuasi secara tajam. Maka financialintermediation yang berdasarkanequity sharing cenderung akan lebih kondusif dalam menciptakan stabilitasperekonomian dibandingkan dengan financialintermediation yang berdasarkan pinjaman.
Denganberbagai elemen sistem ekonomi Islam tidak hanya dapat meminimisasi ketidakstabilan permintaan uang agregat, tetapi juga mempengaruhi berbagai komponen money demand yang pada gilirannya akanmeningkatkan efisiensi dan pemerataan penggunaan dana. Dengan lebih stabilnya money demand di dalam perekonomian Islamakan meningkatkan stabilitas yang lebih baik bagi velocity of circulation of money. Money demand dalam perekonomianIslam tercemin dalam equation sebagaiberikut:
                                    Md = f (Ys.S.  T )
dimana Ys merupakanbarang dan jasa yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar dan investasiproduktif yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, S merupakan nilai-nilai moraldan sosial dan kelembagaan (termasuk zakat) yang mempengaruhi alokasi dandistribusi resources yang tidakdigunakan untuk konsumsi yang tidak bermanfaat, investasi yang tidak produktifdan juga tidak untuk motif-motif spekulasi dan T adalah profit-and-loss sharing.
Umumnyatermasuk dibeberapa negara-negara Islam, Y merupakan output yang termasuk untukpemenuhan konsumsi yang tidak bermanfaat dan investasi yang non produktif.Sedangkan karakteristik Ys, merupakan sesuatu yang normatif yang belummencermikan sesuatu kenyataan saat ini, namun bukan sesuatu hal yang tidakmungkin untuk dicapai. Selanjutnya S merupak nilai-nilai dan kelembagaan yangkompleks yang tidak harus dapat dikuatifikasi. Hal penting yang harusdiperhatikan adalah aktualisasipencapaiantujuan-tujuan dimana Y harusdibersihkan dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam danunsur-unsur yang dapat menggagalkan pencapaian tujuan pembangunanekonomi.Selain dari pada itu, penting pula diperhatikan bahwa dengan adanyanilai-nilai dan kelembagaan tersebut maka tidak ada alasan untuk menggunakansuku bunga yang pada dasarnya telah terbukti tidak efektif dalam mempengaruhi moneydemand.
Ketika money demand selalu dikaitkan dengankesejahteraan masyarakat dan pembangunan, diharapkan money demand akan stabil. Selanjutnya, perlu diperhatikan bagaimanamenggiring aggregate money supplybertemu dengan money demand sehingga terjadi equilibrium. Hal ini penting untukdiperhatikan karena dua instrumen utama dalam manajemen moneter sistemkapitalis, yaitu discount rate danoporasi pasar terbuka yang mengandung suku bunga yang tidak dapat dipakai dalamekonomim Islam. Selanjutnya, yang perlu juga diperhatikan adalah bagaimanamengalokasikan money supply sehinggapencapaian tujuan-tujuan ekonomi dapat berlangsung dengan baik.
  Di dalam pencapaian pertumbuhan money supplyyang sesuai target, diperlukan instrumen-instrumen yang digunakan oleh banksentral untuk menciptakan keselarasan antara pertumbuhan money supply yangditargetkan dan  aktual yang terjadi.Oleh karena dekatnya hubungan antara pertumbuhan kredit dengan pertumbuhan Moatau high-powered mone, maka banksentral berkewajiban untuk mengtur dengan ketat pertumbuhan Mo.
Terdapattiga sumber utama dari high-poweredmoney, yaitu pinjaman pemerintah kepada bank sentral, kredit bank sentralkepada bank komersial dan surplus neraca pemabayaran. Setelah perang duniakedua, sumber pertama merupakan yang terbesar bagi high-powered money karena besarnya defit anggaran pemerintah.Berlebihnya defisit pada anggaran pemerintah mengakibatkan beban yang sangatberat bagi sektor moneter untuk menjaga stabilitas serta kebijakan moneter yangsehat sangat sulit diciptakan. Ekspansi moneter hanya dapat dikontrol bilasumber utama dari haig-powered money  dapat diatur dengan baik. Merupakan suatu halyang tidak realistik bagi negara Islam membicarakan meng-Islamkanperekonomiannya tanpa ada usaha serius untuk mengatur defisit anggaranpemerintah yang sesuai dengan azas manfaat.[2]
Selanjutnya,dimungkinkan bagi bank sentral untuk mengendalikan penyaluran kredit kepadabank-bank komersial. Penerapanprofit-and-loss sharing yang mengantikan suku bunga akan lebih dapatmeningkatkan kemampuan bank sentral untuk mengendalikan penyaluran pinjamantersebut. Penyaluran pinjaman oleh bank sentral kepada bank komersial bisadalam bentuk mudharabah (ber-bagi hasil), yang berarti bank sentral harus lebihberhati-hati dalam menyalurkan pinjaman kepada bank komersial. Dilain pihakbank komersial juga harus lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit kepadadebiturnya baik sektor pemerintah maupun swasta, guna menghindari pemanfaatankredit pada kegiatan-kegiatan spekulasi dan non produktif. Oleh karena itu,manajemen perbankan yang konservatif sangat diperlukan, namun tetap menjagamomentum pertumbuhan ekonomi (Prasetiantono,1998).
Untukpengendalian surplus neraca pembayaran, dapat dilakukan dengan melakukan sterilisasi.Sterilisasi dapat dilaksanakan dengan menggunakan instrument moneter tersediapada suatu negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar