Senin, 20 Juni 2011

Sistem Ekonomi Ribawi



Salah satu penyebab utama munculnya krisis ekonomi dankeuangan di berbagai belahan dunia adalah praktek ribawi dan spekulasifinansial dalam aktivitas perekonomian. Islam dengan tegas  mengharamkan riba dan spekulasi tersebut untukdipraktekkan dalam sistim ekonomi umatnya.  Inilah yang menjadi pembeda utama antarasistim ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional.  Ekonomi kapitalisme secara nyata menghalalkanbunga dan praktek spekulasi.
Pengharaman  ribamenurut  ekonomi Islam memilikiargumentasi yang rasional. Afzalur Rahman dalam buku Economic Doctrines in Islam,   telahmemaparkan secara mendalam dan komprehensif tentang alasan-alasan laranganbunga dalam perekonomian. Demikian pula dalam buku Muhammad sebagai Pedagang (Muhammad as A Trader), Afzalur Rahman juga menjelaskan keburukansistem bunga dalam perekonomian.

 Menurut Prof. A.M. Sadeq (1989) dalam artikelnya "Factor Pricing and IncomeDistribution from An Islamic Perspective" yang dipublikasikan dalam Journalof Islamic Economics, menyebutkan bahwa pengharamkan riba dalam ekonomi,setidaknya, disebabkan oleh [3];
Pertama, sistim ekonomi ribawi telah menimbulkanketidakadilan dalam masyarakat terutama bagi para pemberi modal (bank) yangpasti menerima keuntungan tanpa mahu tahu apakah para peminjam dana tersebut

memperoleh keuntungan atau tidak. Kalau para peminjamdana mendapatkan untung dalam bisnisnya, maka persoalan ketidakadilan mungkintidak akan muncul.
Namun, bila usaha bisnis para peminjam modal bankrut,para peminjam modal juga harus membayar kembali modal yang dipinjamkan daripemodal plus bunga pinjaman. Dalam keadaan ini, para peminjam modal yang sudahbankrut seperti sudah jatuh di timpa tangga pula, dan bukankah ini sesuatu yangsangat tidak adil?
Kedua, sistim ekonomi ribawi jugamerupakan penyebab utama berlakunya ketidakseimbangan antara pemodal denganpeminjam. Keuntungan besar yang diperoleh para peminjam yang biasanya terdiridari golongan industri raksasa (para konglomerat) hanya diharuskan membayarpinjaman modal mereka plus bunga pinjaman dalam jumlah yang relatif kecildibandingkan dengan milyaran keuntungan yang mereka peroleh.
Padahal para penyimpan uang di bank-bank adalah umumnyaterdiri dari rakyat menengah ke bawah. Ini berarti bahwa keuntungan besar yangditerima para konglomerat dari hasil uang pinjamannya tidaklah setimpaldirasakan oleh para pemberi modal (para penyimpan uang di bank) yang umumnyaterdiri dari masyarakat menengah ke bawah.
Ketiga, sistim ekonomi ribawi akanmenghambat investasi karena semakin tingginya tingkat bunga dalam masyarakat,maka semakin kecil kecenderungan masyarakat untuk berinvestasi. Masyarakat akanlebih cenderung untuk menyimpan uangnya di bank-bank karena keuntungan yanglebih besar diperolehi akibat tingginya tingkat bunga.
Terakhir, bungadianggap sebagai tambahan biaya produksi bagi para businessman yang menggunakanmodal pinjaman. Biaya produksi yang tinggi tentu akan memaksa perusahaan untukmenjual produknya dengan harga yang lebih tinggi pula. Melambungnya tingkatharga, pada gilirannya, akan mengundang terjadinya inflasi akibat semakinlemahnya daya beli konsumen. Semua dampak negatif sistim ekonomi ribawi inisecara gradual, tapi pasti, akan mengkeroposkan sendi-sendi ekonomi umat. Kehadirankrisis ekonomi tentunya tidak terlepas dari pengadopsian sistim ekonomi ribawiseperti disebutkan di atas.
Bagaimana skenario sistem ekonomi ribawi akanmenggerogoti sendi-sendi ekonomi umat, secara detail dapat disebutkan sebagaiberikut.
Dalamdunia perbankan yang menganut sistim ribawi tingkat bunga dijadikan acuan untukmeraih keuntungan para pemberi modal. Bank tidak mau tahu apakah para peminjammemperoleh keuntungan atau tidak atas modal pinjamannya, yang penting parapeminjam harus membayar modal pinjamannya plus bunga pinjaman. Semakin tinggitingkat bunga dalam sebuah negara, maka semakin tinggi tingkat keuntungan yangdiperoleh para pemberi modal dan semakin merusak sendi-sendi ekonomi umatakibat dampak negatif sistim ekonomi ribawi dalam masyarakat.
Demikianpula, akibat terlalu tingginya tingkat bunga yang dibebankan kepada parapeminjam, maka semakin sukarnya para peminjam untuk melunasi bunga pinjamannya.Apalagi dalam sistim ekonomi konvensional, biasanya pihak bank tidak terlaluselektif dalam meluncurkan kreditnya kepada masyarakat. Pihak bank tidak mahutahu apakah uang pinjamannya itu digunakan pada sektor-sektor produktif atautidak, yang penting bagi mereka adalah semua dana yang tersedia dapatdisalurkan kepada masyarakat. Sikap bank yang beginilah yang menyebabkansemakin tingginya kredit macet dalam ekonomi akibat semakin menunggaknya hutangpeminjam modal yang tidak sanggup dilunasi ketika jatuh tempo kepada pihakbank. Akibatnya, bank-bank akan memiliki defisit dana yang dampaknya sangatmempengaruhi tingkat produksi dalam masyarakat.
           
            Tak bias dibantah bahwa Interest rate (bunga) merupakan faktoryang sangat menentukan akan  ketidakstabilan ekonomi dunia saat ini. Menurut Friedman (1982) sebagaimana yangdikutip Umer Chapra[1]attributed the unprecedentedly erraticbehavior of the USeconomy to the behavior of interest rates. Tingginya volatilitas dariinterest rate mengakibatkan tingginya tingkat ketidakpastian (uncertainty)dalam financial market sehingga investor tidak berani untuk melakukaninvestasi-investasi jangka panjang. Akibat dari ketidak pastian ini menggiringborrower maupun lender lebih mempertimbangkan pinjaman maupun investsi jangkapendek yang pada gilirannya membuat investasi-investasi jangka pendek yang berbauspekulasi lebih manarik, sehingga masyarakat lebih senang mengambil keuntunganpada pasar-pasar komoditi, saham dan valuta asing. Keadaan tersebut membuatpasar-pasar tersebut semakin aktive dan memanas yang merupakan salah satupenyebab ketidakstabilan ekonomi dunia saat ini.
            Berdasarkan survey yang dilaksanakanoleh Bank for International Investment (BIS), total turnover perdagangan valuta asing mencapai $1230 milliar perhari  kerja pada April 1995, yang sangatberbeda jauh dibandingkan pada April 1992 dan 1989 yang masing-masing hanya$880 milliar dan $620 milliar. Tingginya tingkat turnover tersebut terutama berkaitan dengan derivatives contract (futeresand options). Masih berdasarkan hasil survey BIS diperkirakan nilai totaldari derivative contracts mencapai sekitar $40700 milliar pada 31 Maret 1995dengan volume harian sebesar $839 milliar. Volume harian tersebut jauh lebihbesar dibandingkan dengan volume harian export dan import yang hanya mencapai26,3 milliar pada kwartal pertama tahun 1995.[2] Bilapakar bankir mempertimbangkan pemanfaatan dari dana yang mereka salurkan denganbenar, maka tingginya penyaluran kredit untuk membiayai transaksi-transaksiyang spekulative tidak akan pernahterjadi, seperti yang tercermin dari angka-angka tersebut diatas. Seorangpemenang nobel tahun 1988, yaitu Maurice Allais (1993) semakin menyakinkan kitabahwa kredit memang digunakan untuk membiayai kegiatan spekulasi, sebagaiberikut : Be it speculationon currenciesor speculation on stocks and shares, the worls has become one big casino withgaming tables distributed along every latitude and longitude. The game ang thebids, in which millions of players take part, never cease. The Americanquatations are followed by those from Tokyo andHongkong, from London, Frankfurt and Paris. Everywherespeculation is supported by crdit since one can buy without paying and sellingwithout owning[3].
            Sedemikian besarnya perkembangantransaksi-transaksi keuangan yang berdasarkan derivatives contract sangatberpengaruh terhadap sistem pembayaran. Sebagai konsekwensi besarnya volumetransaksi untuk kegiatan-kegiatan derivative adalah bila terjadi masalahkeuangan disuatu region akan cepat menyebar keseluruh financial system melaluidominoes effect pada lembag-lembag keuangan. Menurut Crocket (1994) telahdisadari bahwa our economies have thusbecome increasingly vulnerable to a possible breakdown in the payments system.[4]Besarnya transaksi-transaksi derivativejuga memiliki kontribusi terhadap semakin tingginya interest rate yang cenderungmemperkecil kegiatan-kegiatan investasi yang produktive. Hal tersebut juga mengakibatkan ketidak stabilan yang berlebihan pada pasarvaluta asing. Usaha-usaha yang dilakukan oleh central banks melaluiperubahan-perubahan interest rate ataupun melalui intervention ternyata secaraumum telah terbukti tidak efektif.
                Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa usaha-usaha mengatur komponen-komponen money demand atau manajemen melalui interest rate cenderung memperkecil money demand untuk kegiatan-kegiatanpemenuhan kebutuhan dasar dan investasi yang produktive dan cenderungmemperbesar money demand untuk kegiatan-kegiatan yang tidak produktive danspekulative, yang pada gilirannya mengakibatkan kegagalan pencapaiantujuan-tujuan pembangunan ekonomi suatu negara. Karena money demand untuk conspicunousconsumption dan spekulasi cenderung lebih tidak stabil, keadaan inimengakibatkan ketidak stabilan sektor moneter, yang pada gilirannyamengkibatkan ketidak stabilan bagi perekonomian secara keseluruhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar